Sewindu Membangun Indonesia dari Desa melalui Program Hibah Bina Desa

Pengembangan potensi desa melalui sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan ketahanan dan kemajuan nasional Indonesia. Program Hibah Dana Desa (PHBD) yang telah berlangsung selama delapan tahun telah berhasil membangkitkan potensi desa pada bidang ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan pendidikan yang sebelumnya kurang menjadi perhatian bagi masyarakat.

Diselenggarakan sejak 2012, PHBD telah melibatkan 700 organisasi mahasiswa dan 7.000 mahasiswa dari 300 perguruan tinggi yang mengabdi di lebih dari 700 desa dari Sabang hingga Merauke. Pada tahun 2019, telah didanai 90 proposal dari 2.190 pendaftar.

Untuk menggali kisah inspiratif keberhasilan PHBD sekaligus untuk evaluasi perbaikan ke depan, diselenggarakan Seminar dan Ekspo Program Hibah Dana Desa: Sewindu PHBD Untuk Negeri 2012-2019 pada 11 Desember 2019 di Hotel Millenium, Jakarta. Seminar ini bertemakan Optimalisasi Peran Perguruan Tinggi dalam Memberdayakan Masyarakat Desa Menuju Indonesia Maju.

PHBD yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat oleh mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Eksekutif Mahasiswa ini dikelola oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Seminar yang dihadiri oleh praktisi pemberdayaan masyarakat, pengusaha/swasta, dan mahasiswa pelaksana PHBD ini diharapkan dapat mengetahui efektivitas, capaian dan kendala program sehingga dapat dirumuskan peningkatan metode dan strategi pelaksanaan guna peningkatan kualitas PHBD secara menyeluruh.

Menurut Direktur Jenderal Belmawa, Ismunandar, PHBD telah terbukti berhasil merubah perilaku masyarakat, melakukan perubahan fisik desa yang mendukung aktivitas produktif masyarakat desa, serta melakukan perubahan kelembagaan maupun kemitraan.

“Dari hasil monitoring dan evaluasi, PHBD telah melakukan beberapa perubahan. Di antaranya telah tumbuh desa wisata baru, munculnya kelembagaan-kelembagaan lokal masyarakat, jaringan kemitraan inter desa maupun dengan stake holder eksternal semakin kuat, tumbuhnya income baru bagi masyarakat, serta munculnya kesadaran masyarakat untuk membangun dirinya sendiri,” terang Ismunandar.

Menurut Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa, Didin Wahidin, pesan inti dari PHBD adalah pemberian makna pada mahasiswa untuk belajar bermasyarakat, belajar dari masyarakat, serta membelajarkan masyarakat.

“Ini merupakan salah satu contoh pembelajaran kompleks untuk menghasilkan SDM Unggul. PHBD mencoba lebih mengoptimalkan perguruan tinggi agar lulusannya lebih berperan di masyarakat. Perguruan tinggi harus menjadi uploader ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Agent of culture harus menjadi jiwa dari perguruan tinggi. Terakhir, perguruan tinggi didorong untuk upaya menjadikan mahasiswanya berdaya dari segi ekonomi. Jangan sampai masuk miskin, keluar tetap miskin,” jelas Didin.

Ia pun menggambarkan bahwa PHBD merupakan salah satu perwujudan dari Jargon #MerdekaBelajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini. Di masyarakat, mahasiswa harus mampu memerdekakan diri untuk mengolah pengetahuan dan pola pikirnya menjadi sesuatu yang produktif dan dibutuhkan oleh masyarakat desa.

Cerita nyata keberhasilan diceritakan oleh seorang tokoh masyarakat yang menerima PHBD dari mahasiswa Institut Pertanian Bogor. Ia menceritakan banyak mendapatkan ilmu secara langsung dari dosen-dosen budidaya ikan di IPB. Meski mengaku awalnya merasa rumit dan pusing karena harus belajar langsung di IPB, tetapi lambat laun ia merasakan keuntungan dari ilmu yang didapatkannya.

“Mungkin mahasiswa dan IPB mengenal ikan itu lebih dulu dari saya. Tapi, mereka kenal teknologi sehingga budidaya itu sangat berbeda jauh dan menjadi lebih baik lagi,” ceritanya.

Kisah lain hadir dari mahasiswa Universitas Brawijaya yang membantu kelompok masyarakat di Pantai Taman Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kabupaten Trenggalek. Desa tersebut merupakan tempat konservasi beberapa spesies penyu. Akhir-akhir ini terjadi penurunan populasi penyu disebabkan oleh perusakan habitat, penyakit serta pengambilan penyu dan telurnya yang tidak terkendali. Sayangnya, kelompok masyarakat di sana masih menggunakan cara tradisional dalam melakukan penetasan telur Penyu.

Melalui PHBD, para mahasiswa tersebut membuat “Alat Otomatisasi Penetas Telur Penyu: Antisipasi Skenario Global Warming Sebagai Solusi Efektif Pelestarian Penyu di Pantai Taman Kili-kili Desa Wonocoyo Kabupaten Trenggalek”. Perancangan alat ini dapat mengantisipasi skenario pemanasan global dengan pengaturan keseimbangan suhu, dan kelembaban pasir yang saling menguntungkan untuk pertumbuhan embrio sampai proses penetasan. Melalui dana PHBD, mereka berhasil menciptakan dua alat penetas telur penyu otomatis berukuran besar dan satu berukuran sedang. Sehingga, peningkatan jumlah spesies penyu dapat dilakukan dan masyarakat mendapatkan penghasilan dari ekowisata bahari. (HKLI/MFR-ETD)

11/12/2019

HUBUNGI KAMI

Gedung D Lt 7, Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270
Indonesia

021-57946073
021-57946072
ditjenbelmawa@ristekdikti.go.id
top
DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN © 2019. ALL RIGHTS RESERVED.