PPG Prajabatan Meningkatkan Standar Penyelenggaraan untuk Memenuhi Kebutuhan 400.000 Guru Profesional

Saat ini Indonesia membutuhkan 400.000 guru profesional atau bersertifikasi. Jumlah tersebut terdiri dari kebutuhan 221.000 guru untuk Sekolah Dasar, dan 187.000 guru untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kebutuhan guru pun disebabkan sekitar 40.000 guru yang pension setiap tahunnya. Untuk memenuhi kebutuhan guru profesional tersebut, Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan memiliki peranan penting.

“Harapannya melalui PPG mahasiswa yang fresh graduate memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan profesi guru ini. Hal ini karena memang selama ini kita lebih fokus hanya yang PPG dalam jabatan. Selain itu melalui PPG calon guru dapat mengajarkan mata pelajaran yang diasuh itu dengan baik, paham akan psikologi siswanya, dan tahu teknologi yang cocok untuk men-deliver materi kepada siswa-siswanya,” ujar Dirjen Pembelajaran dan Kemahsiswaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ismunandar.

Direktur Pembelajaran, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Paristiyanti Nurwardani, menyebutkan bahwa pemenuhan kuota tersebut harus dibarengi dengan mutu lulusan program profesi guru yang tinggi, serta merata di seluruh Indonesia. Menurutnya hal itu untuk mendorong terwujudnya visi Indonesia maju dengan Sumber Daya Manusia yang unggul. Salah satu solusinya adalah dengan membentuk konsorsium perguruan tinggi

“Konsorsium ini akan menyamakan visi dan misi dalam menyiapkan guru  profesional untuk Indonesia dimasa akan datang. Selain itu juga akan membuat sistem nasional dan regulasi mulai  pendaftaran sampai uji kompetensi, penelusuran lulusan, penempatan dan pengukuran learning outcome untuk melihat apakah calon guru ini betul-betul berkualitas di sekolah tempat mereka bekerja.” Hal itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antar Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penyelenggara PPG Prajabatan terkait pembentukan Konsorsium PPG di Gedung D Kemendikbud, Senin, (11/11/2019).

Konsorsium penyelenggara PPG ini ke depannya akan menyusun rencana kegiatan PPG pada lima tahun mendatang, sosialisasi PPG selama   lima tahun, penyelenggaraan PPG yang dimulai dari pendaftaraan hingga penelusuran lulusan, peningkatan mutu lulusan PPG, dan penelitian dan pengabdian masyarakat.

Menurut Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia (LPTKSI), Prof. Sofyan Anif, keberadaan konsorsium nantinya adalah menjadi lembaga yang legal untuk menjamin mutu pelaksanaan PPG sehingga nantinya memang menghasilkan guru-guru yang berkualitas.

“Pengalaman beberapa tahun menjalankan PPG, masih ada banyak kendala dalm pelaksanaannya yang tidak dapat diselesaikan oleh masing-masing penyelenggara. Sehingga dibutuhkan penyelesaian bersama dengan masukan dari para penyelenggara di masing-masing tempat,” jelasnya.

Setali tiga uang dengan Sofyan, Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (LPTKNI), menjelaskan bahwa Konsorsium ini akan berperan untuk membuat standar nasional Pendidikan Profesi Guru di Indonesia. Sehingga, nantinya tidak akan ada lagi perbedaan mencolok antar guru lulusan dari satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lainnya. “Jadi dengan PPG ini untuk mengawal terciptanya profesi guru yang profesional sesuai dengan Undang-undang 14 Tahun 2005 bahwa guru harus bersertifikat. Kemudian tidak semua dapat mengadakan pendidikan profesi guru ini, sehingga perlu adanya regulasi supaya ada standar sehingga tidak ada diskriminasi antara Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta”, jelasnya.

Berdirinya konsorsium ini juga menjadi awal untuk memperbaiki sistem penyelenggaraan PPG Prajabatan. Perbaikan awal adalah dari segi seleksi penerimaan PPG. Soal PPG prajabatan tahun ini ditambahkan dengan instrumen baru, yaitu bidang soal seleksi panggilan jiwa. Kumpulan soal ini dimaksudkan mengukur kecenderungan orang untuk menjadi guru berprestasi di Indonesia. Penyusunan soal ini dilakukan selama beberapa tahapan, dan finalisasi selama 10 hari berturut-turu oleh tim yang dipimpin oleh Rektor Universitas Pendidikan Indonesia.

Menurut Paristiyanti, seluruh soal tersebut, termasuk metode dalam pengujiannya sudah sudah dicek oleh jutaan robot yang telah dipasang oleh tim dari Institut Teknologi Bandung. Sehingga kualitas kelayakan soal PPG sudah dapat dipertanggungjawabkan.

Selain bidang soal seleksi panggilan jiwa, tes lainnya pun masih ada, yaitu seleksi minat, seleksi bakat, seleksi adminsitratif. Bedanya, tahun ini hasil dari seleksi akan dijadikan bahan rujukan untuk nilai kelulusan peserta PPG. Harapannya penentuan kelulusan akan lebih objektif dan berkualitas.

Dari segi administrasi, calon peserta PPG pun diharuskan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3.0. Hal ini didasarkan pada rata-rata IPK selama penyelenggaraan PPG. Tingkat seleksi yang ketat, menurut Paristiyanti, diharapkan akan mendorong pembelajaran PPG yang menciptakan guru dengan kemampuan berpikir kritis dan inovasi untuk menyelesaikan masalah pembelajaran di kelasnya, serta isu-isu pendidikan dari level sekolah hingga nasional.

Kualitas input peserta PPG yang baik pun diharapkan akan membantu pengembangan program pembelajaran PPG, salah satunya dengan mengembangkan Artificial intelligence, Augmented reality, serta Virtual reality, terutama dalam bidang-bidang pendidikan guru vokasi yang memang masih sangat dibutuhkan di Indonesia.

“Jadi memang guru ini perlu untuk sangat diperhatikan karena mereka inilah yang akan mencetak generasi emas nantinya. Terlebih lagi saat ini anak-anak millennial juga yang masuk mendaftar PPG ini sehingga nantinya akan lebih akan cocok juga dengan metode pembelajaran yang disiapkan seperti teknologi Augmented reality, Virtual Reality, dan lainnya,” kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.PA. (HKLI/MFR)

03/12/2019

HUBUNGI KAMI

Gedung D Lt 7, Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270
Indonesia

021-57946073
021-57946072
ditjenbelmawa@ristekdikti.go.id
top
DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN © 2019. ALL RIGHTS RESERVED.