Indonesia – Australia Menjajaki Kerja Sama Memajukan Pendidikan Tinggi Vokasi

Pemerintah Indonesia dan Australia menjajaki kerja sama untuk meningkatkan pendidikan tinggi vokasi di masing-masing negara melalui Indonesia-Australia TVET Forum pada Selasa (8/10/2019) di Jakarta.

Puluhan pimpinan Politeknik di Indonesia dan beberapa perwakilan Politeknik dan Instansi dari Australia bersama-sama membahas tantangan dan peluang pendidikan tinggi vokasi di masing-masing negara. Harapannya ditemukan solusi bersama dan bentuk kerja sama yang bisa mendorong kemajuan pendidikan tinggi vokasi.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ismunandar, dalam sambutannya menerangkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan vokasi menjadi salah satu prioritas utama dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hal tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sayangnya, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi.

“Kami memiliki beberapa tantangan. Angka siswa SMK saat ini cukup tinggi. Namun, hal itu berbeda cerita di pendidikan tinggi vokasi. Kami harus memiliki beberapa strategi untuk meningkatkan angka partisipasi ini,”ujar Ismunandar.

Selain itu, ia pun menjelaskan bahwa kualitas akreditas Politeknik di Indonesia belum cukup tinggi. Ditjen Belmawa terus meningkatkan kualitas pembelajarannya dengan kerja sama dengan industri dan pihak luar negeri. Misalnya pelatihan dalam bidang e-logistic. Selain itu, Ditjen Belmawa tengah meningkatkan sertifikasi profesi mahasiswa vokasi. Tantangan itu diharapkan dapat dikerjakan bersama dengan Australia.

Direktur Kelembagaan IPTEK dan Dikti, Patdono Suwignjo, menyatakan terbuka untuk menjalin kerja sama dengan Perguruan Tinggi dari Australia. Bahkan menurutnya, Presiden Joko Widodo  memiliki perhatian utama agar Universitas Australia membuka kampusnya di Indonesia.

”Tetapi, tentu dengan beberapa persyaratan. Misalnya kolaborasi dengan kampus lokal, tidak berorientasi pada keuntungan besar, serta diutamakan pada jurusan terkini yang belum berkembang di Indonesia. Politeknik Australia pun kami terbuka menyambutnya,” terang Patdono.

Ia pun menceritakan hasil studi kasusnya terhadap Universitas Tazmania di Australia. Menurutnya, terdapat tantangan yang sama di dalam pendidikan tinggi vokasi Indonesia dan Australia. Misalnya dalam kasus program studi Manajemen Pelabuhan. Permasalahan utama adalah tidak adanya standar kualifikasi pekerjaan lulusan secara internasional. Hal tersebut akan menghambat penyusunan profil lulusan, tingkat jenjang pendidikan, hingga kurikulum pendidikannya.

”Kondisi tersebut tentu menjadi peluang dalam kerja sama pendidikan tinggi vokasi di Indonesia dan Australia untuk menyelesaikan masalah bersama-sama. Misalnya pertama sama-sama menentukan standar internasional untuk manajemen pelabuhan, selanjutnya memilih aktor dalam setiap tahapan pembentukan dan pembelajaran. Jika SDM sudah ada, dapat dilakukan joint degree” bubuh Patdono.

Pejabat Pendidikan dari daerah Northen Australia, Selena Uibo, menyebutkan bahwa Australia dan Indonesia harus bersama-sama menyelesikan tantangan baru pada bidang kualifikasi kemampuan tenaga kerja.

”Kebutuhan ekonomi dan gaya hidup mengubah kondisi dunia. Terutama teknologi yang sangat membutuhkan kemampuan yang kompleks,” ujar Selena Uibo. Ia menjelaskan bahwa akses kemampuan sumber daya manusia perlu ditingkatkan agar sesuai dengan kualifikasi di lapangan pekerjaan.

Sementara itu, konselor bidang pendidikan dan sains, Kedutaan Besar Australia di Indonesia menyebutkan bahwa di Australia, pendidikan tinggi vokasi menjadi salah satu sistem pendidikan untuk meningkatkan industri, ekonomi, dan tentu komunitas masyarakat Australia. Telah terbukti, bahwa di Australia pendidikan vokasi meningkatkan perekonomian Australia.

Acara dilanjutkan dengan tiga sesi diskusi yang diisi oleh tiga orang perwakilan pengelola Politeknik di Indonesia, serta tiga orang perwakilan dari pengelolan Politeknik di Australia. Sesi diskusi membahas mengenai persepsi pendidikan tinggi vokasi dari masing-masing negara; keterkaitan pendidikan tinggi vokasi dengan industri, pelatihan kerja, serta peluang kerja, dan sesi terakhir membahas mobilitas dan magang. Terakhir, mereka berbaur untuk menjajaki kerja sama satu sama lain.

Menurutnya, Revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan tinggi vokasi di Australia dan Indonesia, terutama dalam menyelesaikan masalah-masalah baru dengan kemampuan manusia dan bantuan teknologi yang baru.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan serta Pemeritah Australia melalui Australian Trade and Investment Comission serta Konsulat Pendidikan dan Sains Kedutaan Besar Australia. Direktur Pembelajaran, Ditjen Belmawa, Kemenristekdikti, menutup acara ini dengan harapan ada kerja sama konkret yang mulai dibangun selepas forum ini. (HKLI/MFR)

 

 

09/10/2019

HUBUNGI KAMI

Gedung D Lt 7, Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270
Indonesia

021-57946073
021-57946072
ditjenbelmawa@ristekdikti.go.id
top
DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN © 2019. ALL RIGHTS RESERVED.