Enam Perguruan Tinggi Presentasikan Hasil Workshop dan Training Fintech

Sebagai bentuk tindak lanjut Memorandum Of Understanding (MoU) antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia, Kementerian Pendidikan Singapura, Ngee Ann Polytechnic Singapura dan Temasek Foundation, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan melalui Direktorat Pembelajaran, mengadakan Cascading and Management Review Financial Technology (Fintech) di hotel Savoy Homann, Bandung.

Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 19 – 22 Austus 2019 ini, dihadiri oleh perwakilan dari Ngee Ann Polytechnic Singapore, Temasek Foundation, enam perguruan tinggi peserta ToT Fintech dari segment sebelumnya yaitu Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, Politeknik Negeri Jakarta, dan Universitas Airlangga.

Direktur Pembelajaran, Paristiyanti Nurwardani, membuka langsung acara ini. Ia menyampaikan bahwa financial technology (fin-tech) merupakan kebutuhan penting dalam pendidikan tinggi. Ekonomi global tidak menuntut lulusan perguruan tinggi menguasai bidang fin-tech.

“Kami mewakili Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Ngee Ann Polytechnic Singapore dan Temasek Foundation yang telah berkenan membagikan ilmu terkait Fintech untuk dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Seiring perkembangan era industry 4.0 kemampuan fintech harus dimiliki oleh setiap individu, terutama mahasiswa sebagai generasi milenial perlu untuk menguasai fintech agar bisa bersaing dengan perkembangan ekonomi global” ujar Paristiyanti.

Sebelum mengikuti kegiatan Cascading and Management Review Fintech ini, enam perguruan tinggi tersebut telah melaksanakan Workshop ataupun Training terkait program fintech secara mandiri di kampusnya masing-masing. Sehingga dalam kegiatan ini setiap perwakilan secara bergantian mempresentasikan hasil whorkhop/trainingnya untuk dilakukan review bersama tim Kemenristekdikti, Temasek Foundation, serta Ngee Ann Polytechnic.

Berdasarkan hasil presentasi, peserta menyatakan pentingnya kemampuan fintech terutama bagi mahasiswa. Maka pembelajaran tentang fintech perlu dimasukkan ke dalam struktur kurikulum di perguruan tinggi agar pembelajaran tentang financial searah dengan perkembangan teknologi.

Kepala Subdirektorat Pendidikan Vokasi dan Profesi, Hendra Suryanto, juga menyampaikan bahwa dengan perkembangan dan pemanfaatan produk-produk fintech semakin cepat dan luas di berbagai sektor, khususnya dalam bidang keuangan.

“Tentunya kampus harus menyiapkan mahasiswa sebagai generasi milenial yang pastinya akan berhubungan secara langsung sebagai pelaku fintech. Mereka harus dibekali sehingga tidak hanya menjadi konsumen, melainkan diharapkan menjadi entrepreneur sukses dalam bidang fintech,” jelas Hendra.

Sebagai penutup, melalui kegiatan ini Paristiyanti berharap agar perwakilan enam perguruan tinggi peserta, bisa membuat suatu gagasan yang diterapkan di perguruan tinggi masing-masing sehingga setiap mahasiswa memiliki bekal kemampuan fintech yang baik untuk menyongsong persaingan ekonomi yang semakin sengit.

“Dosen dan mahasiswa harus bisa berkolaborasi agar tujuan pemberdayaan bidang fintech bisa semakin berkembang di dunia kampus sehingga bisa meningkatkan kewirausahaan mahasiswa di bidang fintech, seperti pengembangan Start-Up, market place dan produk-produk fintech lainnya,” pungkas Direktur Pembelajaran tersebut. (Belmawa)

22/08/2019

HUBUNGI KAMI

Gedung D Lt 7, Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270
Indonesia

021-57946073
021-57946072
ditjenbelmawa@ristekdikti.go.id
top
DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN © 2019. ALL RIGHTS RESERVED.