Sarasehan Penjaminan Mutu Politeknik di Indonesia

Diretkorat Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal Pembalajaran, dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenrsitekdikti) menyelenggarakan Saresehan Penjaminan Mutu Politeknik Indonesia di Century Park Hotel, Jakarta (29/04/2019). Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan masalah mutu di Politeknik Indonesia.

Indonesia saat ini memiliki 281 politeknik. Namun, hanya ada 6 institusi yang mendapatkan akreditasi A, dan 70 terakreditasi B. Sisanya, masih dalam kondisi kurang baik, yaitu 50 institusi terakreditasi C, dan 155 masih belum terakreditasi. Data tersebut disampaikan oleh  Prof. Ismunandar, Direktur Jenderal Belmawa saat membuka acara.

Sementara itu, dari 2.064 program studi yang terdapat di seluruh Politeknik Indonesia, angkanya masih perlu ditingkatkan. Hanya 155 program studi terakreditasi A, dan 940 program studi mendapatkan B. Sisanya, 348 terakreditasi C, dan 621 belum terakreditasi. Kondisi ini tentu menjadi tantangan untuk peningkatan mutu Politeknik di Indonesia.

Ir. Muhammad Anshar, M.Si, Ph. D., Direktur Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar, presentasi akreditasi Politeknik tersebut akan semakin sulit menjadi positif jika penerapan sistem akreditasi yang baru sudah diterapkan.

“Kemarin saya melakukan sosialisasi instrumen baru akreditasi, informasi yang disampaikan bahwa akreditasi PT (Perguruan Tinggi), Prodi (Program Studi) ke depannya semakin susah. Untuk menjadi A, doktornya itu minimal 50%, kemudian lektor kepala 75%, jadi itu semakin berat,” ujarnya.

Ismunandar pun menjawab dengan idenya terkait konsep akreditasi Politeknik ke depan. “Ke depannya sebenarnya perlu didorong untuk pembedaan institusi dengan vokasi (politeknik). Ke depannya, untuk akreditasi program studi politeknik, bagi yang ingin membuat lembaga akreditasi mandiri, kami menerima untuk didiskusikan. Kalau ada yang siap, kita bantu,” terang Ismunandar.

Ismunandar kemudian memaparkan sistem pembelajaran Kemenristekdikti dalam meningkatkan mutu Politeknik. Sistem tersebut menggunakan Blended Learning. Materi vokasi menurutnya dapat ditampung dalam sistem e-learning, dan di laboratorium, bengkel, atau ruang kelas lebih banyak melatih skills mahasiswa.

“Sudah ada kunjungan ke Korea, salah satu penyelenggaran cyber university, Hankook Cyber University, mantan rektornya itu mendirikan cyber lab. Jadi mereka siap untuk kerja sama, misalkan membuat online resources di sana,” tambah Ismunandar.

Strategi lainnya ialah perbaikan sistem pembelajaran melalui dosen Politeknik. Salah satu peserta menyebutkan bawha dosen Politeknik semestinya memiliki perbedaan kualifikasi dengan dosen Universitas. Kemampuan praktik menjadi kebutuhan utama.

Ismunandar pun menambahkan perlunya dosen dari industri yang masuk ke Politeknik. “Penyiapan dosen politeknik itu termasuk dalam salah satu program revitalisasi Politeknik. Kita itu berharap sekali dosen dari industri yang 50%. Jadi kalau ada yang bisa kita bantu percepat, mohon diinformasikan bagaimana yang kita (bisa) bantu.  Usulannya kita tunggu,” imbuh Ismunandar.

Selain kualitas, akses ke Politeknik pun perlu ditingkatkan, guna menyaring generasi terbaik untuk berkembang di Politeknik. “Penerima Bidikmisi diharapkan itu berkuliah di Politeknik, karena kami harapkan setelah selesai kuliah cepat kuliah,” terang Ismunandar.

Ismunandar menutup dengan menyebutkan bahwa revitalisasi Politeknik menjadi lebih bermutu harus dilakukan dari berbagai sektor. “Pendidikan berkualitas, Program relevan, serta peningkatan akses ke Politeknik,” pungkasnya. (MFR/HKLLI)

 

30/04/2019

HUBUNGI KAMI

Gedung D Lt 7, Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270
Indonesia

021-57946073
021-57946072
ditjenbelmawa@ristekdikti.go.id
top
DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN © 2019. ALL RIGHTS RESERVED.