Home » Headline

Tantang Era Industri 4.0, Menristekdikti Ajak Mahasiswa Magang di BUMN

21/03/2019

Tantangan adanya knowledge-based economy dan era Industri 4.0 serta Society 5.0 membuat Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) berupaya untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang bermutu.

SDM yang kreatif, inovatif, dan kompetitif dapat dijadikan sebagai modal dasar dalam mengembangkan dan menerapkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang dapat menjawab permasalahan bangsa. Adanya tantangan penerapan knowledge-based economy, adanya era Industri 4.0, dan Society 5.0 dipastikan akan berdampak pada semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk perkembangan ekonomi.

“Hal ini menuntut kita semua, baik sistem pendidikan, dunia usaha, dan industri, serta pemerintah untuk turut berevolusi menyesuaikan diri” ujar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir saat memberikan sambutan dalam acara Penandatanganan MoU Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) yang bekerja sama dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya pada Rabu (20/03/2019).

Menteri Nasir juga menambahkan adanya pergeseran ini, membuat sistem pendidikan juga dinilai mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Kemenristekdikti telah mengarahkan universitas untuk melakukan re-orientasi kurikulum dan capaian pembelajaran yang relevan dengan era Industri 4.0 dan Society 5.0 agar para lulusan memiliki kompetensi dan keterampilan yang tepat dan unggul.

“Melalui upaya tersebut, diharapkan tumbuh SDM Indonesia yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, sehingga mempunyai daya adaptif, antisipatif, dan futuristik, menuju Indonesia yang lebih baik di masa depan” katanya. Maka dari itu, untuk meningkatkan SDM, perlu adanya sinergi dan komitmen bersama dari pihak kementerian, universitas, industri, dan masyarakat.

Dalam gelaran ini, Menteri Nasir sangat mengapresiasi adanya program PMMB bersama dengan Kementerian BUMN. Pasalnya hal ini dinilai menjadi kerja sama yang konkrit sebagai upaya peningkatan kualitas SDM dan daya saing bangsa Indonesia secara global.

Adanya PMMB turut mendukung misi Kemenristekdikti dalam mewujudkan relevansi antara Perguruan Tinggi dengan dunia industri. Hal ini selaras dengan yang dikatakan Direktur Pembelajaran Ditjen Belmawa, Paristiyanti Nurwardani. Ia mengatakan dengan adanya program ini Perguruan Tinggi bisa mengharmonisasikan kurikulum yang sudah ada dengan yang dibutuhkan dunia industri atau dunia usaha (link and match). “Dengan semakin kayanya link and match maka lulusan Perguruan Tinggi nantinya bisa langsung diserap di dunia usaha atau industri” ujarnya.

Paristiyanti juga menambahkan agar para lulusan magang bersertifikat dapat turut memberikan masukan untuk kurikulum Perguruan Tingginya. “Dari masukan tersebut dapat dilakukan inovasi-invasi dalam proses pembelajaran sehingga betu-betul dibangun bersama antara kurikulum Perguruan Tinggi dengan dunia usaha atau industri” imbuhnya.

Dalam hal ini, Paris juga menyebutkan terkait dengan Satuan Kredit Semester (SKS) yang juga disesuaikan dengan program magang ini. Kemenristekdikti akan mengeluarkan Keputusan Menteri (Kepmen) tentang pengaturan SKS magang. Dalam jangka waktu magang 1 hingga 2 bulan akan dapat dihitung setara dengan 2 hingga 4 SKS. Bagi yang akan melakukan magang selama 1 semester, nantinya dapat setara dengan 9 sks.
Saat ini tercatat sudah sebanyak 143 perusahaan di bawah Kementerian BUMN bersedia sebagai fasilitator PMMB agar mahasiswa dapat mendapatkan pengalaman kerja. Direktur pembelajaran berharap PMMB antara Kemenristekdikti dengan Kementerian BUMN ini dapat menginspirasi Kementerian lainnya untuk dapat mengadakan kerja sama program yang sama.

Sebagai perwakilan dari Ditjen Belmawa, Paristiyanti mengajak seluruh mahasiswa yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk dapat memanfaatkan kesempatan magang bersertifikat ini sebaik-baiknya. “Saya yakin, ini bisa menjadi jembatan emas bagi mahasiswa untuk selain belajar hardskill di kampus, bisa juga belajar softskill dan memiliki pengalam kerja di industri” katanya. (SGD/HKLI)

TAG: Headline