Home » Berita

Mencetak Lulusan Berdaya Saing di Era Industri 4.0

13/03/2019

“Kita harus berkawan dengan perkembangan zaman. Kalau kita melawan akhirnya seperti buruh di Inggris yang merusak mesin. Buat apa mesin dilawan jika memang ia lebih efektif?” Pertanyaan filosofis itu digulirkan oleh Prof. Ismunandar, Ph.D., Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) saat memberikan kuliah umum di Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, Selasa (12/03/2019).

 

Acara tersebut sebagai langkah implementasi One Professor for 1.000 Students, program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dari Direktorat Pembelajaran Belmawa. Kuliah ini pun diselenggarakan secara tele-conference yang terhubung dengan 22 universitas di seluruh Indonesia, mulai dari Universitas Syiah Kuala, Aceh hingga Universitas Patimura, Maluku. Bentuk itu sebagai respons pendidikan tinggi menghadapi Era Revolusi Industri 4.0.

 

Menurut Ismunandar, Presiden Joko Widodo selalu menekankan perguruan tinggi harus membuat terobosan-terobosan. “Presiden seringkai mengomeli karena program studi yang belum muncul seperti data science, web security, web development. Jadi buka perguruan tinggi yang perlu, jangan ragu tutup prodi yang sudah jenuh di masyarakat,” terang Ismunandar.

 

Era Industri Revolusi 4.0 yang identik dengan internet of things juga sarat akan tantangan. “Di era ini, senyuman mungkin hanya ditemukan saat kita pulang ke rumah dari istri, karena di mana-mana kita bertemunya mesin. Jadi di era ini adik-adik mahasiswa jangan stress, tetap terbarkan senyum dan empati,” pesan Ismunandar.

 

Namun di sisi lain, selain menjadi ancaman, industri 4.0 memberikan peluang-peluang baru. “Kerjaan yang memang rutin tidak apa-apa digantikan robot, tetapi kalau soal leadership itu tetap manusia,” terangnya.

 

Ismunandar menambahkan bahwa Industri 4.0 harus dihadapi dengan penuh harapan. Masa depan Indonesia diramalkan sangat optimistis. Indonesia akan menjadi negara keempat terbesar di dunia dalam bidang ekonomi pada tahun 2050. Namun, menurutnya, ramalan itu harus didukung dengan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia.

 

“Ramalan-ramalan besar tadi itu bisa tercapai kalau anak mudanya itu produktif, kreatif, dan lainnya. Jadi misi kita itu meningkatkan akses dan mutu pendidikan tinggi.  Di sini peran swasta sangat diperlukan untuk meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi, jadi Unpas diharapkan dapat menyokong APK (Angka Parstisipasi Kasar). Kita bertekad untuk lima tahun ke depan, targetnya menjadi 50% APK,” terangnya.

 

Ia menjelaskan ambisi pemerintah semua orang dapat mengakses pendidikan tinggi karena pekerjaan di masa depan semakin banyak memerlukan lulusan pendidikan tinggi. “Beberapa negara sudah membuat pendidikan tinggi sebagai jaring pengaman sosial,” terang Ismunandar.

 

Salah satu program untuk meningkatkan APK itu ialah Pendidikan Jarak Jauh yang terus dikembangkan oleh Belmawa. “Online learning harus segera dimanfaatkan oleh pendidikan tinggi. Jadi materi itu bisa dibagikan via online, sementara kelas itu menjadi pertarungan yang lebih bermakna,” pinta Ismunandar.

 

Pamungkas, ia menymapaikan bahwa perkembangan teknologi harus semakin memanusiakan manusia. “Semua perkembangan itu harus dikerjakan untuk kehormatan manusia,” tutupnya.

 

Selesai memberikan kuliah umum, Ismunandar meresmikan secara simbolis program Pendidikan Profesi Guru Pendidikan Matematika di Universitas Pasundan. Juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi, mahasiswa terjauh dari Timur Indonesia, juga Barat Indonesia.

 

Rektor Unpas pun mengaku dapat menyokong perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia. “Selama 59 tahun Unpas dapat dikatakan dari segi human capital itu terbaik. Guru besar terbanyak di Jawa Barat dan Banten misalnya, itu ada di Unpas. Ini perjuangan berbagai pihak,” tutur Rektor Unpas, Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp, M.Si., M.Kom. (MFR/HKLI)