Home » Berita

Kreativitas dan Seni Modal Besar ISBI Hadapi Revolusi Industri 4.0

13/03/2019

Perkembangan revolusi industri 4.0 yang identik dengan otomatisasi, tidak akan mampu membunuh kreativitas dan daya seni. Itulah salah satu pesan penting Prof. Ismunandar, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) saat menjadi pembicara utama di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Selasa (12/03/2019).

Seminar yang dihelat oleh Ikatan Alumni ISBI Bandung tersebut mengusung tema “Keunggulan Kompetitif Nilai-nilai Seni Budaya dalam Era Revolusi Industri 4.0 Menuju Jalan Kemandirian Bangsa”.

Acara dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Iwa Karniwa S.E.Ak., M.M., CA., PIA. Iwa menyampaikan dua rekomendasi agar lulusan ISBI dapat terserap oleh kebutuhan masyarakat. Pertama, seluruh fakultas dan program studi dapat meningkatkan kemampuan manasiswanya.

Kedua, ia mengharapkan ada mata kuliah tambahan yang mendorong kompetensi lulusan ISBI. “Masukkan mata kuliah, yaitu mata kuliah entrepreneur untuk seluruh prodi. Kedua mata kuliah pedagogik serta psikologi pendidikan. Jika itu terjadi, lulusan ISBI dijamin tidak ada yang menganggur. Bu Rektor (ISBI) dan kerja sama Pemprov Jawa Barat akan dioptimalkan untuk bisa mengajar di SD, SMP, yang kebetulan kurang pendidikan seninya,” jelas Iwa.

Ismunandar kemudian menyampaikan paparannya berjudul “Reorientasi Kurikulum Nasional untuk Meningkatkan Inovasi Perguruan Tinggi Seni Budaya di Era Revolusi Industri 4.0 menuju Kemandirian Bangsa”. Ia menyampaikan kunci keberhasilan ke depan ialah yang cepat melawan yang lelet. Karenanya bangsa ini harus cepat berbenah untuk menyesuaikan, termasuk pendidikan tinggi.

 

“Prioritas nasional berkaitan dengan revolusi industri 4.0 sebenarnya berkaitan dengan otomatisasi. Namun, semuanya seolah tidak berkaitan dengan seni, padahal ada di semua lini pekerjaan (kesenian) ini. Seperti desain, kreativitas, dan sebagainya itu sangat dibutuhkan. Kreativitas dan seni itu sesuatu yang tidak bisa diotomatisasi,” terang Ismunandar.

Ismunandar menyampaikan tiga pesan agar lulusan ISBI mampu bersaing di era revolusi industri 4.0. Pertama, mahasiswa ISBI harus memiliki literasi baru, tidak hanya terkait dengan bidang studinya saja. “Anak seni tari tidak cukup hanya kemampuannya saja, tetapi butuh literasi data, literasi teknologi, literasi manusia,” jelasnya.

Kedua, mahasiswa harus dibekali dengan general education, yaitu pelajaran-pelajaran dasar untuk meneropong landasan ke masa depan, seperti pendidikan bela negara, pendidikan anti korupsi, kewarganegaraan, dan mata kuliah lainnya. Ketiga, Ismunandar menekankan agar mahasiswa harus belajar sepanjang hayat. Inovasi yang semakin cepat, harus mendukung mahasiswa untuk reskilling dan upskilling.

Selain itu, kewirausahaan menjadi penting dalam menghadapi otomatisasi. “Jadi untuk memberikan mata kuliah entrepreneurship di kampus ini kita dorong,” tegas Ismunandar.

Guru Besar ITB itu pun memberikan saran kepada alumni untuk terus bersinergi dengan kampus ISBI, memunculkan industry kreatif dengan seni agar berdaya guna dan berdaya hidup, mewujudkan program pemajuan kebudayaan pemerintah, serta menciptakan lapangan kerja kreatif secara individu atau kelompok.

Pemerintah pun menurutnya sudah semakin mendorong kepada pemajuan kebudayaan. “Baru ini ada Undang-Undang No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Itu adalah kesempatan baru bagi lulusan ISBI. Baru-baru ini juga ada Kongres Kebudayaan yang dihelat Kemendikbud. Juga ada dana abadi kebudayaan, itu bisa digunakan untuk berbagai kegiatan kebudayaan,” ungkapnya.

Terakhir ia berpesan bahwa keragaman ialah mesin untuk invensi kemudian menjadi inovasi, memperkaya kreativitas. “Kita harus buktikan keberagaman yang luar biasa di Indonesia ini lahir menjadi inovasi-inovasi yang berguna,” pungkasnya.

Selesai pembukaan acara Rektor ISBI Bandung Dr. Een Herdiani, S.Sen, M.Hum, memaparkan bahwa selama ini pekerjaan lulusan ISBI Bandung didominasi dengan menjadi wirausahawaan. “Pada umumnya (alumni) berwirausaha, jadi mereka ada yang buka sanggar-sanggar, studio-studio, tapi di pemerintahan juga banyak. Tapi memang, untuk belakangan ini, penerimaan pegawai negeri khususnya ya, itu untuk menerima sarjana seni itu kurang sekali. Mohon ada pemanfaatan sumber daya kami yang tidak diragukan lagi kompetensinya,” harapnya.

Ia pun merangcang untuk lima tahun ke depan, ISBI Bandung memiliki pusat bisnis industri kreatif. “Jadi tempat penjualan karya-karya, pameran-pameran mahasiswa dan dosen, berada di sini,” jelasnya. (MFR/Belmawa)