Home » Berita

Rektor Unpad Yakinkan UTBK Akan Berjalan Lancar

09/03/2019

Sistem Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2019 yang diselenggarakan dengan Ujian Tulis Berbasi Komputer (UTBK) persiapannya semakin matang. Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Prof. Rina Indiastuti, meninjau langsung ke Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai PIC implementasi UTBK.  Berbagung via tele-conference, Direktur Jenderal Belmawa, Prof. Ismunandar dari Jakarta.

 

Rektor Unpad meyakinkan saat monitoring oleh Belmawa bahwa UTBK akan berjalan lancar. “Jangan khawatir, ini teknologi atau sistem bukan yang baru, sudah kita uji. Kementerian sudah melakukan ini sejak 2016, kita kembangkan, makin besar, makin besar, dengan keyakinan ini sudah berjalan baik,” ujar Prof. Dr.med Tri Hanggono Achmad, dr. di Unpad, Sabtu (09/03/2019).

 

Sistem ujian SBMPTN berbasis komputer memang telah dilangsungkan sejak 2016. Saat itu, Menristekdikti menginstruksikan untuk membuat inovasi dalam seleksi SBMPTN, agar lebih adaptif dengan perkembangan teknologi. Tahun berikutnya, 2017, dikembangkan sistem lebih baik dengan skala yang blebih luas. Tahun 2018 sistem terus dikembangkan, bahkan ada yang berbasis android.

 

“Kalau untuk tahun 2019 ini, Pak Menteri mengusulkan seluruhnya berbasis komputer. Jadi, sebenarnya tinggal replikasi prinsipnya. Jadi secara prinsip teknologi ini insyaallah establish. Memang kalau dahulu penyelenggaraan di PTN saja, tetapi kali ini ditambah di mitra, ada di sekolah yang pernah menyelenggarakan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Jadi secara infrastruktur dan teknologi ini sudah establish,” Tri Hanggono meyakinkan.

 

Sistem dan teknologi tahun ini harus dikembangkan untuk menjawab dua hal. Pertama, jumlah peserta ujian dalam jaringan yang lebih besar dari SBMPTN tahun sebelumnya, serta UTBK yang diselenggarakan beberapa kali. “Jadi peningkatannya tadi, jumlah coverage kalau dulu terakhir paling banyak kita hanya bisa meng-cover sekitar 26.000, nah sekarang sekali ujian 85.000 di seluruh Indonesia. Yang kedua, penyelenggaraan ujian tidak hanya satu kali, tetapi beberapa kali,” ujarnya.

 

Sistem UTBK telah dibangun dengan standar baku yang jelas dan ketat. Sehingga, di mana pun tempat penyelenggaraannya akan memiliki kualitas yang sama. “Kami yakinkan bahwa mau penyelenggaraan di Merauke, mau di Aceh, standarnya sama, jangan khawatir. Baik teknologi maupun substansi.  Hari ini kami selenggarakan try out untuk meyakinkan supaya semua proses bisa berjalan dengan baik,” jelas Tri Hanggono.

 

Sebelumnya, banyak yang mengeluhkan sistem pendaftaran SBMPTN yang sulit karena server yang kurang baik. Menurut Tri Hanggono, sistem pendaftaran online memang baru diterapkan untuk tahun ini. Itu bukan di bawah tanggung jawabnya secara langsung, karena diselenggarakan oleh kampus yang berbeda. Namun, hal itu menjadi pelajaran.

“Kalu kalau sampai terjadi, memang pendaftaran (online) ini hal baru. Tapi insyaallah dengan modal (pengalaman) ini kami sudah bisa meyakinan nanti, peserta di mana, ruang mana, item atau soalnya seperti apa yang diperoleh, itu sudah terset dengan baik. Jadi kami meyakinkan jangan khawatir di sisi itu,” terangnya.

 

Sebagai peserta, para siswa yang mengikuti UTBK sebenarnya sudah siap dengan UTBK ini, karena siswa sudah mengikuti UNBK. Teknologi dan sistem UTBK bukanlah hal yang asing. Ia pun meyakinkan adanya sistem yang ramah, “membuat makin friendly bagi peserta”.

 

Ada beberapa keunggulan dalam pelaksanaan UTBK. Pertama, tidak akan ada lagi peserta yang gagal hanya karena salah pengisian identitas, karena sudah terisi otomatis tidak seperti sistem ujian berbasis kertas dahulu. Kedua, penghematan waktu dan peserta bisa menjadi lebih fokus. “Dulu waktu menjawab menghitamkan, sekarang tinggal klik, lalu mau ganti jawaban hapus dulu, menghitamkan lagi, sekarang tinggal ganti klik, beres. Jadi ini sangat menguntungkan untuk peserta apalagi generasi milenial kan nyaman sekali dengan pola seperti itu,” terang Tri Hanggono.

 

Tingkat pengawasan UTBK pun menjadi lebih ketat, mempersempit terjadinya kecurangan. Pertama, pola menjawab setiap peserta akan terus terdeteksi, mulai dari waktu yang disediakan setiap soal dan waktu yang dihabiskan oleh peserta ujian. Kedua, sistem pemimilihan paket soal yang acak menyulitkan untuk tindakan menyontek, bahkan dengan peserta yang bersebelahan. Ketiga, pengawasan terjadi dalam sistem tiga lapis.

 

“Pengawas pun sekarang jadi berlapis, di on the spot ada pengawas, secara sistem ada pengawasan dari pola jawaban, juga semua ruangan (UTBK) termonitor oleh CCTV, rekaman kejadian tersimpan di sini. Jadi kalau saya tetap berharap yah, ini kan menentukan kehidupan ke depan, lalu generasi muda ini harus membangun kejujuran. Mari kita berkompetisi secara baik dengan sikap jujur,” pesannya.

 

Prof. Rina Indiastuti pun berharap UTBK akan berjalan lancar, terutama para sumber daya manusia yang mengelola penyelenggaraan UTBK ini mampu bertanggung jawab secara profesional. Peserta diharapkan dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan pemerintah akan terus menyiapkan sistem demi kelancaran UTBK. (MFR/HKLI Belmawa)