Home » Berita

Dirjen Belmawa: “Politeknik Harus Mampu Hadapi Otomatisasi di Industri”

09/03/2019

Politeknik menjadi salah satu tumpuan pemerintah untuk meningkatkan keterampilan sumber daya manusia, terutama dalam era otomatisasi revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0. Itulah salah satu pesan penting yang disampaikan Prof. Ismunandar, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) saat memberikan kuliah umum di Politeknik Manufatkur (Polman), Bandung (08/03/2019) siang hari.

“Kita berpotensi menjadi negara terbesar keempat di dunia, tetapi saat ini kita masih berada dalam posisi 16. Penyebabnya ialah karena kita kekurangan tenaga kerja yang memiliki keterampilan andal. Kedua, karena inovasi kita masih rendah. Politeknik ini mesti menjadi jawaban untuk peningkatan kualitas keterampilan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Ismunandar.

Kuliah umum yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-42 Polman itu bertajuk “Peningkatan Kapasitas sumber Daya Manusia di Bidang Teknologi Manufaktur dalam Era Revolusi Industri 4.0”. Melalui sepak terjangnya puluhan tahun, Ismunandar mengapresiasi peran Polman. Setelah berkunjung ke beberapa laboratorium kerja Polman, ia yakin kemampuan mahasiswa Polman mampu mengikuti persaingan zaman.

“Tugas pendidikan tinggi ialah untuk mendidik generasi agar orang yang tidak tergantikan oleh robot. Ada buku berjudul ‘Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence’, karangan Joseph E.Aoun, itu membahas bagaimana masyarakat tidak tergatikan oleh robot. Misalnya empati, inovasi, hal-hal yang bukan rutin, kepemimpinan, itu masih perlu dilakukan manusia,” terang Professor ITB tersebut.

Tantangannya, menurut Ismunandar, perguruan tinggi saat ini lambat merespon perkembangan teknologi dan inovasi yang cepat. Sehingga, banyak industri besar yang menyediakan kursus atau pelatihan, misalnya Microsoft.

Menurut Ismunandar pemerintah akan meningkatkan kuantitas Politeknik di Indonesia. “Meskipun pembukaan politeknik mahal, tetapi tetap harus dilakukan. Jadi kalau ada yang mau buka universitas baru, pemerintah menahan. Namun, jika ada yang ingin membuka politkenik, kami akan sangat mendorong,” jelas Imsunandar.

Pengembangan Politeknik juga telah tercantum dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi No. 54 Tahun 2018. Membahas penyelenggaraaan pendidikan vokasi dalam sistem yang terbuka dengan fleksibilitas dan waktu penyelesaian pendidikan (multy entry and multy exit system).

Ismunandar juga menekankan politeknik untuk memerhatikan hasil riset McKinsey Global Institute tentang pekerjaan yang baru dan yang hilang berkaitan dengan otomatisasi. Dalam survey tersebut dijelaskan bahwa pada tahun 2030, 12 persen pekerjaan yang ada saat ini akan digantikan otomatisasi.

Merespon hal tersebut, secara terpisah Direktur Polman, Dede Buchori Muslim, menjelaskan bahwa memang telah terjadi pergeseran pekerjaan, tetapi Polman terus bersiap untuk mencetak lulusan yang mampu berinovasi di era disrupsi ini.

“Satu sisi ada pergeseran industri yang tadinya itu masif produksi, menjadi produk yang cepat berganti, life cycle produk itu cepat. Misalnya gadget. Perubahan itu mengubah permintaan tenaga kerja, mengubah juga teknologi yang ada,” ujar Buchori.

Teknologi foundry secara global, jepang dan eropa, negara maju itu satu per satu tutup, karena vondry itu untuk produksi masal. Kenapa berkurang karena muncul teknologi baru 3D scanning dan 3D printing, jadi teknologi itu cepat terjadi dari perencanaan hingga keluar produk. “Jadi sekarang ini untuk membuat satu komponen itu bisa unik, bisa dibuat satu saja,” jelasnya.

Teknologi 3D itu pun sudah dimiliki Polman. Meskipun mengaku terengah-engah, Buchori memaparkan bahwa Polman terus meningkatkan teknologi terapan agar mahasiswa lebih paham perkembangan terkini. Begitupun dalam pembelajaran, Polman sudah memberikan kewajiban kepada seluruh mahasiswa akan diberikan terkait perancangan pemograman, atau algoritma.

“Jadi semua mahasiswa punya nalar untuk merancang pemograman. Contohnya saja kalau untuk maintenance, profesi yang memastikan bahwa mesin-mesin itu siap digunakan. Nah saat ini, mesin-mesin itu akan terkoneksi dengan internet, sehingga pengguna bisa memonitor performa mesin, dan mendeteksi kerusakan pada mesin. Itu tantangan dan kita tengah siapkan,” terangnya.

Ke depan, menyambut Dies Natalis Polman yang ke-42 ini, Direktur Polman berharap dapat menjadikan mahasiswa sebagai lulusan Polman mampu menghadapi kemungkinan-kemungkinan   dunia yang memang telah berubah. Melalui pendidikan hard skills, dan juga soft skills dalam kegiatan kemahasiswaan. (MFR/LKHI Belmawa)