Home » Berita

KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix: Inovasi Menuju Perubahan yang Lebih Baik

06/12/2018

Bandung-Belmawa, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah menerjunkan para mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan KKN Tematik Citarum Harum. Ada yang baru dengan pelaksanaan KKN saat ini. UPI menerapkan KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix dalam melaksanakan KKN tematik Citarum Harum.

Pada tanggal 4 Desember 2018, Kepala Pusat Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan KKN LPPM UPI, Dra. Katiah, M.Pd, tengah melakukan monitoring dan evaluasi di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Katiah menjelaskan bahwa KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix Tematik Citarum Harum merupakan inovasi terbaru program KKN Tematik UPI. Dia mengharapkan adanya perubahan yang membawa dampak positif dengan inovasi KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix.

KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix merupakan inovasi yang diterapkan oleh UPI dengan melibatkan pihak seperti akademisi, pemerintah daerah, masyarakat atau komunitas, dunia usaha, dan media massa dalam rangka menuntaskan masalah di sekitar sungai Citarum Harum. Ada pun konsep KKN Tematik yang dilaksanakan oleh UPI dengan model pendekatan keluarga. 1 Mahasiswa mendapatkan tugas untuk mendapingi 3 keluarga. Dengan harapan, adanya perubahan perilaku masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan.

Sebelum para mahasiswa diterjunkan ke lokasi, mereka mendapatkan pembekalan dalam bentuk workshop. Biasanya, workshop hanya disampaikan oleh dosen pembimbing, namun KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix menyatukan tokoh masyarakat dan komunitas, akademisi, aparat pemerintah, bahkan TNI dalam mempersiapkan mahasiswa yang akan diterjunkan. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk diklat.

Dosen pembimbing KKN, Sriyono, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa implementasi konsep KKN Tematik yang dilaksanakan oleh UPI memang berbeda dengan KKN reguler. Pada umumnya kelompok mahasiswa bersama-sama melakukan program dan berada di 1 rumah atau tempat tinggal selama 40 hari. KKN tematik UPI pada dasarnya memiliki runtutan yang sama, hanya saja mahasiswa memiliki waktu yang fleksibel dalam melaksanakan program KKN.

1 Mahasiswa mendampingi 3 keluarga selama 40 hari dengan pendampingan minimal 2 jam sehari per-keluarga. Sehingga, 1 mahasiswa melakukan program KKN minimal selama 6 jam per-hari dan tidak bermalam di lokasi. Bobot penilaian KKN Tematik tersebut pun tetap sama.

Kondisi karakteristik keluarga yang didampingi oleh peserta KKN pun menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa dituntut memiliki kreativitas, kejelian, kemampuan sosial untuk mengidentifikasi potensi “masalah” keluarga. Kemudian Mahasiswa memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan yang dialami keluarga asuh mereka.

KKN Tematik ini merupakan pola baru yang diinisiasi oleh Rektor UPI. Dia menuturkan jika konsep ini sudah bergulir di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan tinggi dan akan dijadikan semacam guidance. Sehingga, nantinya KKN tidak akan lagi dilaksanakan secara blok-blok tertentu. Ada pun kelebihan pelaksanaan KKN Tematik ini dapat dilaksanakan oleh Mahasiswa yang memiliki program mata kuliah. Berkat konsep ini pun dapat mengakselerasi penyelesaian studi. (HLM)

Sumber: http://berita.upi.edu

Layanan Informasi,
Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan