Home » Berita

Alumni Bidikmisi Menggagas Inovasi

09/11/2018

Jakarta, Belmawa-Setelah mahasiswa lulus dari perguruan tinggi, gagasan inovasi pun tak lantas surut. Itulah semangat dari para alumni bidikmisi yang mengikuti kompetisi pada acara Novartis Young Innovators Camp. Dua alumni penerima bidikmisi, Sofyan dan Dewi mengikuti kegiatan tersebut untuk mendapat pembekalan kompetensi tambahan dan mengasah talenta inovasi untuk tujuan dapat bergabung dalam Novartis Management Development Program. Kegiatan Young Innovators Camp ini dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 6 November 2018.

Dalam sambutannya, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyampaikan bahwa peneliti harus terus berinovasi untuk mendukung pembangunan nasional secara keseluruhan, sehingga diarahkan pada respon kebutuhan masyarakat. Salah satu inovasi yang dibutuhkan dan dapat dirasakan langsung manfaatnya adalah inovasi dalam bidang obat dan kesehatan.

Salah satu peserta yaitu Ahmmad Sofyan, alumni bidikmisi angkatan 2014 yang telah lulus dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun 2018. “Bagi saya, pendidikan itu penting. Sebelumnya, saya ingin jadi dosen. Saya juga ingin meningkatkan taraf hidup keluarga.”

Peserta lain yaitu Dewi Ayu Kusumawardhani, juga alumni bidikmisi ini mulai berkuliah tahun 2011 di Unversitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus tahun 2015. “Pada saat itu sekolah mengumpulkan profil siswanya dan penghasilan dari mama saya itu masuk dalam kriteria untuk bidikmisi. Mereka menawarkan kepada saya. Dan saya masuk kuliah melalui jalur undangan (SNMPTN).” Begitulah kisah Dewi yang berasal dari Tangerang, Banten.

Selama 3 hari, sejak tanggal 6 November 2018 kedua alumni bidikmisi termasuk dalam 25 kontestan. Mereka telah berhasil lolos seleksi dari 240 peserta yang mendaftarkan diri untuk mengikuti young innovators camp.

“Saya mengetahui ada acara tersebut melalui web Belmawa, saya rasa web Belmawa cukup membantu lulusan baru untuk mencari informasi tentang pekerjaan.” Begitu cerita Sofyan. Lain dengan Sofyan, Dewi mendapatkan informasi tersebut dari milis pertemanannya. Dari situlah partisipasi mereka di young innovators camp dimulai.

Laki-laki yang sudah berhasil menerbitkan 3 buku ber-ISBN bersama teman-temannya selama kuliah ini pun memiliki hobi yang berkaitan dengan gaya hidup sehat. “Setiap sore saya suka lari, sampai anak-anak kadang ikutan lari,” dari situlah ide Sofyan untuk young innovators camp muncul.

Dengan memanfaatkan pola hidup generasi milenial yang aktif dengan gawai, Sofyan mengajak mereka untuk ikut berlari. Sofyan dan kelompoknya mengusulkan pemanfaatan media sosial dan jaringan pertemanan daring. Generasi milenial dapat mengunggah foto atau informasi aktivitas berlari mereka, serta dapat mengajak teman-teman mereka untuk berlari. Sehingga, generasi milenial dapat tetap eksis dan menjaga kesehatan mereka.

Bagi Dewi, Mahasiswi yang baru saja lulus S2 di UGM dengan beasiswa LPDP memiliki inovasi yang lain bersama teman kelompoknya. Dewi yang lekat dengan dunia kesehatan dan teman kelompoknya menyadari adanya gap antara donor dan resipien dalam kasus end-stage renal disease.

“Sudah banyak komunitas yang membuat aplikasi crowdfounding, tetapi kami mengusulkan platform untuk menjembatani antara donor dan resipien, bukan membiayai transplantasinya.” Begitu yang dijelaskan Dewi, yang lulus dari program sarjana, jurusan gizi kesehatan. Inovasi yang ditawarkan Dewi dan kelompoknya berupa serambi untuk memfasilitasi pendonor melalui program urun dana. Pendonor akan mendapatkan fasilitas transportasi dan akomodasi untuk bertemu dengan resipien.

Tantangan dalam kompetisi tentu selalu ada. Dua alumni bidikmisi yang semua berpredikat cum laude pun perlu bekerja keras menghadapi para kompetitornya. “Memang kompetisinya tidak mudah, mereka harus berkompetisi dengan lulusan dari perguruan tinggi luar negeri yang bahasa inggrisnya sudah fasih, juga mereka perlu membangun rasa percaya diri dan kemampuan bekerja tim.” Begitu komentar Rina Indiastuti, Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan yang turut serta sebagai juri pada acara tersebut.

Kedua alumni bidikmisi ini pun masih memiliki mimpi yang ingin diraih. Sofyan yang berlatar belakang adminstrasi negara ini pun berkecimpung dalam transparansi penggunaan dana desa. Begitu pun dengan Dewi yang ingin memiliki pekerjaan tetap di masa yang akan datang, namun saat ini terus berkontribusi melalui LSM. Dia pun menceritakan partisipasinya pada saat membantu korban bencana alam di Palu, Sulawesi Tengah. (HLM)