Home » Berita

Membangun Budaya Mutu Dimulai Dari Penyusunan Dokumen SPMI

11/07/2018

Membangun budaya mutu atau quality culture di perguruan tinggi perlu rencana dan tahapan yang jelas. Kejelasan dimulai dari langkah Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan dalam hal kebijakan, manual, standar yang digunakan dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), dan berbagai formulir yang didokumentasikan dalam Dokumen SPMI. Demikian pada mulanya tahapan membangun budaya mutu melalui penerapan SPMI, tidak berhenti hanya pada menyusun dokumen SPMI belaka namun justru penerapannya yang harus ditekankan dengan harapan hasilnya berdampak pada peningkatan budaya mutu pendidikan tinggi.

Dalam upaya melanjutkan upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi melalui penumbuhan budaya mutu di perguruan tinggi, Direktorat Penjaminan Mutu melaksanakan Lokakarya Penyusunan Dokumen SPMI batch kelima di Lombok pada 5-7 Juli 2018. Hadir dalam lokakarya antara lain Kasubdit Penguatan Mutu, Masluhin Hajaz dan Kasi Peningkatan Mutu; Octa Nugroho; fasilitator SPMI antara lain Hartanto Nugroho, Siti Herlinda, Dadan Ramdan,  Emma Hermawati, dan Rahmatullah Riziq.

Lokakarya diikuti 90 peserta dari perguruan tinggi di NTT, NTB, Bali, dan sebagai dari Jawa Timur dengan masing-masing perguruan tinggi mengirimkan  ketua penjaminan mutu dan kepala prodinya.  Lokakarya diawali laporan pelaksanaan kegiatan  sekaligus pembukaan oleh Kasubdit Penguatan Mutu,  Masluhin Hajaz mewakili Direktur Penjaminan Muti menyampaikan “Terdaftar kurang lebih 110 orang peserta  yang mendaftar online di batch Lombok ini, namun yang diundang hanya 90 peserta sesuai quota dan alhamdulillah bisa hadir semua”.

Direktorat Penjaminan Mutu hadir memfasilitasi lokakarya ini agar sekitar 6 ribu prodi yang masih terakredasi peringkat C bisa segera kita tingkatkan menjadi B bahkan A. Dengan meningkatnya akreditasi prodi diharapkan lulusannya juga ikut meningkat mutu dan kompetensinya sehingga memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa kita. Dan bagi prodi yang masih terakreditasi C dan tidak mau ikut gerbong perubahan melalui penerapan SPMI, maka siap-siap tutup karena ditinggalkan mahasiswanya, ujar Masluhin. “Oleh karena itu Bapak Ibu yang kali ini hadir adalah orang-orang istimewa karena terpilih dari sekian calon peserta yang sudah kami seleksi. Bapak Ibu kami harapkan bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan lokakarya, gunakan kesempatan dengan baik karena institusi Bapak Ibu dan masyarakat kita sedang menunggu hasil pelatihan. Bapak Ibu sekalian adalah ujung tombak untuk meningkatkan mutu prodi dan perguruan tingginya, Bapak Ibu sekalian adalah pejuang mutu,” harap Kasubdit Penguatan Mutu.

Lokakarya berlangsung tiga hari dengan penekanan pada praktik penyusunan dokumen SPMI, antara lain Dokumen Kebijakan SPMI, Dokumen Manual SPMI, Dokumen Standar yang digunakan SPMI, dan Formulir SPMI. Peserta dibagi dalam tiga kelas untuk berdiskusi dan menyusun dokumen SPMI. Setiap kelas 30 orang  dan masing-masing kelas dididampingi 2 orang fasilitator. (HAZ/HKLI)