Home » Berita

Pentingnya Keberpihakan Perguruan Tinggi Kepada Mahasiswa Berkebutuhan Khusus

09/05/2018

Bima – Bemawa (8/5/2018).  Pendidikan khusus merupakan suatu sistim layanan pendidikan yang diperuntukan bagi individu yang memerlukan layanan pendidikan khusus. Hakikat individu yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus adalah mereka yang secara signifikansi berada di luar rerata normal, baik dari segi fisik, inderawi, mental, sosial dan emosi sehingga memerlukan pelayanankhusus gar dapat tumbuh dan berkembang secara sosial, ekonomi, budaya, dan religi bersama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Menyikapi hal tersebut Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menerbitkan Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi.

Permenristekdikti Nomor 46 Tahun 2017 ini sebagai langkah strategis untuk memberikan kesempatan pada penyandang disabilitas dapat mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi dan sudah saatnya Perguruan Tinggi memberikan perhatian dan keberpihakan yang serius terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus. Hal itulah yang mendorong Direktorat Pembelajaran melalui Sub Direktorat Pembelajaran Khusus untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi pendidikan khusus pada Perguruan Tinggi  dan mengembangkan panduan layanan  pendidikan khusus bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, selain itu Direktorat Pembelajaran memberikan hibah inovasi pembelajaran pendidikan khusus kepada Perguruan Tinggi, ungkap Sirin Wahyu Nugroho pada saat membuka acara Sosialisasi Program Pendidikan Khusus dan Hibah Inovasi Pembelajaran Khusus yang diselenggarakan di STKIP Taman Siswa Bima.

Tujuan sosialisasi ini agar Perguruan Tinggi memiliki pemahaman yang sama tentang Pendidikan  Khusus dan penyelenggaraan pendidikan khusus di Perguruan Tinggi serta  isi Permenristekdikti Nomor 46 tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus sehingga Perguruan Tinggi dapat menyelenggaraan Pendidikan Khusus dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku “Dengan sosialisasi ini, Perguruan Tinggi memiliki pemahaman yang sama dalam menyelenggarakan pendidikan khusus di Perguruan Tinggi masing-masing” tegas Sirin.

Dengan terbitnya Permenristekdikti Nomor 46 tahun 2017, Perguruan Tinggi dapat menerima calon mahasiswa penyandang Disabilitas “Perguruan Tinggi dapat menerima calon mahasiswa penyandang Disabilitas karena penyandang Disabilitas juga memiliki potensi dan kemampuan yang luar biasa untuk dikembangkan sehingga bermanfaat bagi orang lain”tambahnya.

Pada kesempatan yang sama Koordiantor  Kopertis Wilayah VIII Bali Nusra yang diwakili Anak Agung Gde Agung Supthayana (Kabid Akademik, Kemahasiswaan dan Kelembagaan)  mengatakan saat ini lebih dari 70 PTN dan PTS di Indonesia telah menerima mahasiswa dari penyandang disabilitas. Lebih dari 400 mahasiswa berkebutuhan khusus tercatat sedang mengikuti kuliah di program Diploma, Sarjana maupun Sarjana “Mereka berasal dari berbagai jenis hambatan (tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan lain-lain) dan mereka tersebar di berbagai disiplin ilmu seperti pendidikan luar biasa, bahasa, hukum, sejarah, musik, sosialogi, ilmu sosial politik, komputer, desain grafis, olah raga, agama, pendidikan luar sekolah, bimbingan konseling, tata busana, tata rias, psikologi, pendidikan anak usia dini dan lain-lain “tegasnya.

Kemenristekdikti memandang bahwa pada saat ini sangat dibutuhkan contoh-contoh baik berupa model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus di Perguruan Tinggi. Contoh-contoh baik berupa model pembelajaran inovatif nantinya dapat dijadikan referensi dan inpirasi bagi dosen yang lain dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan khusus secara luas di Indonesia ungkap Agung.

Kegiatan Sosialisasi Program Pendidikan Khusus dan Hibah Pembelajaran Khusus mendapat apresiasi dari STKIP Taman Siswa atas kepercayaan yang diberikan oleh Direktorat Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebagai tempat penyelenggaraan Sosialisasi “STKIP Taman Siswa Bima sangat mengapresiasi kepercayaan Direktorat Pembelajaran yang memberikan kepercayaan pada STKIP Taman Siswa Bima sebagai lokasi penyelenggaraan Sosialisasi Pendidikan Khusus” ucapnya.

Selanjutnya Budi selaku narasumber pada kegiatan sosialisasi program Pendidikan Khusus mengatakan bahwa pelaksanaan Pendidikan Khusus di Perguruan Tinggi merupakan suatu keharusan terutama perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi kependidikan karena amanat dari Permenristekdikti Nomor 46 Tahun 2017 pasal 11 menegaskan Perguruan Tinggi yang menyenggarakan program studi kependidikan wajib memasukan materi, kajian, pokok bahasan, atau mata kuliah pendidikan inklusi dalam kurikulum. Ia menambahkan Perguruan Tinggi memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan calon mahasiswa baru  “Dalam pengumuman penerimaan calon mahasiswa, setiap perguruan tinggi perlu mencantumkan secara eksplisit dan tegas bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk mendaftar dan mengikuti proses seleksi penerimaan siswa baru melalui jalur umum seperti SNPTN, SBMPTN, Mandiri sedangkan  jalur khusus seperti kuota khusus dan afirmasi”  ungkapnya. Sedangkan Asep selaku Narasumber dari Unversitas Negeri Jakarta mengatatakan dengan kegiatan sosialisasi program pendidikan khusus ini, Perguruan Tinggi dapat meningkatkan akreditasinya dan kesiapan Perguruan Tinggi  menerima mahasiswa disabilitas “Perguruan Tingi  melakukan upaya pendekatan dengan sekolah SLB atau sekolah yang menyelenggarakan Pendidikan inklusi untuk melihat calon mahasiswa disabilitas untuk memfasilitasi penyandang disabilitas untuk kuliah di Perguruan Tinggi sehingga kedepan Perguruan Tinggi bisa menjadi Perguruan Tinggi yang menerapkan Pendidikan Inklusi khusus Perguruan Tinggi kependidikan wajib memasukan materi Pendidikan Inklusi dalam kurikulumnya” tegasnya.

Kegiatan Sosialisasi Program Pendidikan Khusus dan Hibah Inovasi Pembelajaran Khusus bertempat di STKIP Taman Siswa Bima diikuti oleh 130 peserta dari 28 Perguruan Tinggi yang ada di Kopertis Wilayah VIII Bali Nusra.

(NF. Dit.Pembelajaran/HKLI)