Home » Berita

PENERAPAN STANDAR BUKTI PERGURUAN TINGGI BERMUTU

19/04/2018

Padang – Ditjen. Belmawa. Di jaman seperti sekarang ini, jaman milenial, segala sesuatu disikapi dengan kritis. Untuk melanjutkan ke perguruan tinggi (PT), anak-anak muda juga memilih PT yang bermutu. Saat ini perguruan tinggi negeri masih menjadi pilihan pertama di samping beberapa perguruan tinggi swasta yang sudah mempunyai nama seperti Trisakti di Jakarta, Petra di Surabaya, Maranatha dan Parahyangan di Bandung, Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, sayangnya masih banyak PT yang belum bermutu baik.

Pemerintah juga memandang perlu untuk meningkatkan mutu PT dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dalam Bab III tentang Penjaminan Mutu menyatakan bahwa manajemen Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dilakukan dengan lima tahapan yaitu Penetapan Standar, Pelaksanaan Standar, Evaluasi Pelaksanaan Standar, Pengendalian Pelaksanaan Standar, dan Peningkatan Standar Pendidikan Tinggi. Lima tahapan ini disingkat dan dinamakan dengan siklus PPEPP. Kemudian pada Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) No. 62 Tahun 2016, pasal 5 ditekankan tentang evaluasi PPEPP dilakukan melalui Audit Mutu Internal (AMI).

Guna mendorong peningkatan mutu PT di Indonesia, Direktorat Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melaksanakan Lokakarya AMI pada tanggal 17 – 19 April 2018 di Padang, Sumatera Barat. Lokakarya dihadiri oleh 77 peserta dari 34 PT yang ada di wilayah Kopertis X, diantaranya dari Padang, Bukit Tinggi, Pekan Baru, Batam, Jambi dan Tanjung Pinang. Peserta dibagi dalam tiga kelas guna lebih fokus.

Kepala Seksi Peningkatan Mutu, mewakili Direktorat Penjaminan Mutu membuka acara tersebut, Octa Nugroho menyampaikan harapannya agar peserta mengikuti lokakarya AMI  dengan baik, tekun berlatih sehingga dapat menjadi auditor yang handal, kelak keahliannya dapat digunakan untuk bertugas sebagai auditor di PT wilayah sekitanya, minimal di kampusnya masing-masing. Instruktur pada lokakarya ini adalah J.P. Guntur Sutapa dari Universitas Gajahmada, Setyo Pertiwi dari Institut Pertanian Bogor, Nyoman Sadra Dharmawan dari Universitas Udayana, Alberta Rika Pratiwi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Elvi Rusmiyanto dari Universitas Tanjungpura, dan Syahrun Nur dari Universitas Syah Kuala.Padang2

Peserta berharap dapat melakukan evaluasi di kampusnya masing-masing guna peningkatan mutu di PT nya, minimal dapat meningkatkan akreditasi di Prodi-nya. Setyo Pertiwi, instruktur dari IPB menyatakan bahwa pelaksanaan AMI tergantung dari kematangan PT nya menerapkan standar. Ketika PT sudah terbiasa menerapkan standar maka AMI diperlukan untuk audit yang beresiko tinggi, bukan lagi hal-hal ‘kecil’ seperti presensi, infrastruktur, tetapi hal-hal yang ‘besar’ seperti capaian pembelajaran, nilai tambah, kompetensi, dan pembudayaan mutu. (MG/HKLI)