Home » Berita

Kunjungi PCR, Dubes Kanada Puas Dengan Program PEDP

18/12/2017

Pekanbaru – Belmawa. (12/12) – Politeknik Caltex Riau (PCR) dikunjungi Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Lester, Mr H.E. Peter MacArthur. Kunjungan ini dilakukan terkait dengan program Polytechnich Educational Development Project (PEDP) dimana PCR merupakan salah satu Politeknik yang masuk dalam program pengembangan. PEDP sendiri merupakan program Kemenristekdikti yang dananya bersumber dari pinjaman Asian Development Bank (ADB) dan hibah Pemerintah Kanada. Dalam kunjungan ini, Duta Besar Kanada didampingi oleh Counsellor (Development)/Director for Indonesia and ASEAN Programme, Ms. Sharon Armstrong,  Counsellor and Senior Trade Commissioner, Ms. Nadia Bourely dan Senior Development Officer, Mr. Hari Basuki.

Direktur PCR, Dr. Hendriko,   dalam kesempatan ini memaparkan tentang kemajuan Politeknik Caltex Riau, termasuk perkembangan dan dampak dari program PEDP. Beliau tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diterima PCR. Pada tahun 2013-2016 PCR memperoleh bantuan sekitar Rp 14,5 M dan dilanjutkan tahun 2017-2019 dengan komitmen bantuan sebesar Rp 10 M. Dana tersebut digunakan untuk peningkatan mutu pendidikan di program studi Teknik Elektronika dan Teknik Mekatronika. Adapun kegiatan utama dari program PEDP adalah peningkatan kualitas sarana laboratorium dan peningkatan kompetensi staf. Direktur PCR menyampaikan bahwa program PEDP telah memberi dampak yang signifikan dalam meningkatkan kualitas proses akademik dan sekaligus meningkatkan jumlah mahasiswa.

Director for Indonesia and ASEAN Programme, Sharon Armstrong, menjelaskan tentang program PEDP dan sasaran yang ingin dicapai. “Program PEDP lebih difokuskan untuk penyediaan peralatan dan peningkatan fasilitas pendidikan politeknik di Indonesia. Pemerintah Kanada juga banyak menyediakan pelatihan dan sertifikasi untuk para dosen politeknik”, ungkap Sharon Armstrongdr hendra di riau

Dubes dan Delegasi Kanada selanjutnya mengunjungi fasilitas laboratorium dan Pusat Unggulan Teknologi PCR (Automation Centre). Dubes Kanada menyaksikan langsung peralatan laboratorium yang merupakan bagian dari program PEDP dan saat ini seluruhnya sudah digunakan. Beliau juga berkesempatan berdiskusi dengan mahasiswa yang kebetulan sedang melaksanakan praktikum.

Dari hasil kunjungan singkat ini Peter MacArthur menyampaikan bahwa beliau sangat terkesan dengan kampus PCR. “Saya baru saja tiba di kampus yang indah, kampusnya hijau dan strukturnya modern. Setelah melihat lokasinya, bangunannya modern, fasilitas canggih, lanskap hijau yang indah. Saya pikir setiap orang dapat merasakannya, tempat ini energik dan memberikan motivasi untuk kerja keras dan belajar teknik elektronika misalnya. Dan saya juga melihat bahwa PCR juga memperluas bangunan tambahan dan hal itu sangat baik dan sangat positif untuk kesan pertama dan bahkan sebelum saya bertemu dengan orang-orang hebat”, ungkapnya.

Menutup kunjungannya di kampus PCR, Dubes Kanada menyampaikan rasa puas terhadap hasil yang dicapai dari program PEDP. Beliau juga menitip pesan agar PCR dapat meningkatkan jumlah dan minat mahasiswa perempuan untuk melanjutkan pendidikan di PCR sehingga ada keseimbangan antara mahasiswa laki – laki dan perempuan.

Dr. Hendriko menyampaikan bahwa PCR sangat bangga bisa menjadi bagian dari program PEDP. Tak lupa beliau mengucapkan terima kasih kepada Kemenristekdikti atas bantuan ini. Kepercayaan yang diberikan terhadap PCR menunjukan bahwa pemerintah mengakui kualitas pedidikan yang dijalankan PCR dan ini merupakan amanah yang harus dijaga. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Dirjen Belmawa, Prof. Intan Ahmad saat melakukan kunjungan tanggal 29 Agustus 2015. “Lulusan Politeknik perlu terus ditingkatkan karena Indonesia sangat membutuhkannya. Dan kualitas pendidikan serta budaya akademik sebagaimana yang terlihat di kampus Politeknik Caltex Riau perlu menjadi contoh bagi kampus lainnya” ungkap Prof. Intan Ahmad.

PCR dibangun oleh PT Caltex Pacific Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 2001 dan memulai operasinya dengan jumlah mahasiswa sebanyak 173 orang. Dalam 16 tahun terjadi peningkatan minat masyarakat secara siknifikan sehingga saat ini jumlah mahasiswa tumbuh menjadi 1.787 orang. (feri/editor/HKLI).