Home » Berita

Peningkatan Kualitas Layanan Pusat Karir dan Pusat Karir Lanjutan

16/11/2017

Jakarta-Belmawa. Dalam rangka meningkatkan penyerapan tenaga kerja di Indonesia, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk mewujudkan hal tersebut. Perguruan Tinggi sebagai penyedia calon tenaga terampil dan insan yang paripurna berperan sebagai jembatan antara mahasiswa dengan dunia kerja. Sehingga, lulusan dari perguruan tinggi tidak membenani negara sebagai SDM yang pasif, melainkan menjadi insan yang produktif atau siap diterima di pasar kerja.

Selain itu, untuk memenuhi penyelarasan tenaga kerja, baru 10% dari seluruh Perguran Tinggi di Indonesia yang memiliki layanan pusat karir. Sehingga, tahun ini, 196 Perguruan Tinggi mendapatkan hibah untuk mengembangkan kelembagaan dan program layanan pusat karir dan peningakatan penelusuran lulusan di masyarakat dan dunia kerja melalui pusat karir lanjutan/tracer study.

Pengelolaan tersebut tentu memerlukan dukungan dari para pemangku kepentingan. Seperti yang dilakukan oleh Direktorat Kemahasiswaan selama dua hari pada tanggal 16-17 November 2017. Tengah berlangsung acara Seminar Hasil Program Pengembangan Layanan Pusat Karir dan Pusat Karir Lanjutan (PKPKL) di Hotel Menara Peninsula, Jakarta.

Acara dihadiri oleh 196 Perguruan Tinggi penerima hibah program PKPKL 2017, Direktur Kemahasiswaan, Kepala Subdirektorat Penyelarasan Kebutuhan Kerja, Majelis Akreditasi BAN-PT, serta tim pengembang layanan pusat karir dan pusat karir lanjutan. Acara dibuka dengan arahan dari Direktur Kemahasiswaan, Didin Wahidin. Kemudian dilanjutkan penyampaian materi dari Majelis Akreditasi BAN-PT oleh Setyo Pertiwi. Selanjutnya, para peserta akan dibagi dalam diskusi paralel untuk membahas lebih dalam tentang Bantuan Pusat Karir dan Bantuan Pusat Karir Lanjutan.

Dalam arahannya, Didin menyampaikan bahwa orang-orang yang bekerja di layanan pusat karir memiliki peran penting dalam membimbing mahasiswa sejak awal masuk kuliah, proses perkuliahan, hingga akhir masa program studi. Karena peran strategis itulah, layanan program pusat karir perlu dikembangkan. Agar, mahasiswa yang lulus dapat bermanfaat bagi masyarakat, negara, bahkan umat manusia. Selain itu, layanan pusat karir di Pergruan Tinggi perlu memerhatikan surat edaran tentang pengumpulan data yang dibutuhkan dari proses tracer study. Data tersebut akan digunakan dalam pemerintah sebagai dasar dalam menentuka kebijakan. Sehingga, pimpinan Perguran Tinggi dan pengelola layanan pusat karir perlu memerhatikan pula hal tersebut.

Tantangan Perguruan Tinggi, tidak hanya menyiapkan insan yang paripurna untuk kebutuhan dunia kerja. Didin menjelaskan bahwa terdapat beberapa tantangan yang dihadapi seperti penyerapan Angka Partisipasi Kasar (APK), ketimpangan ekonomi antara Indonesia timur dan barat, kaya dan miskin, serta upaya pemecahan persatuan bangsa. Perguruan Tinggi diharapkan memberi solusi terhadap penyarapan APK dengan memanfaatkan fasilitas beasiswa yang diberikan pemerintah seperti beasiswa Afirmasi dengan nama ADik Papua dan 3T (daerah terdepan, terluar, dan tertinggal). Selain itu, pengelola layanan pusat karir juga berperan dalam mengantisipasi penangkalan paham radikalisme, dengan bekerja bersama para stakeholder di Perguruan Tinggi. Sehingga, benar-benar menyiapkan lulusan yang cinta tanah air, berkarakter baik, dan berwawasan global.

Dengan demikian, pemerintah terus berperan aktif untuk mendukung penyelarasan kebutuhan kerja. Perlu dukungan dari seluruh pemangku kepentingan untuk merealisasikan tujuan tersebut, khususnya peran Perguruan Tinggi. Sehingga, negara ini mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusianya dengan tepat. (HLMY/HKLI)