Intan Ahmad: Pendidikan Bersifat Universal

MES_5279Jakarta – Belmawa. Memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Intan Ahmad dipercaya untuk memimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakarta pagi tadi (2/10). Upacara yang dihadiri oleh sejumlah civitas akademika Universitas Negeri Jakarta tersebut tampak berlangsung khidmat. Yang menjadi spesial adalah pada upacara pagi tadi Dirjen Intan Ahmad hadir sebagai Pejabat Pelaksana Harian (PLH) Rektor Universitas Negeri Jakarta, yang terhitung mulai 25 September 2017 berdasarkan Surat Perintah Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti).

Sebagai PLH Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Intan Ahmad akan mengemban dua tugas utama dari Menristekdikti, yaitu membenahi Program Pascasarjana, terutama untuk Program Doktor (S3), agar seluruh aspeknya sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNDIKTI), serta untuk mengawal jalannya pemilihan rektor hingga terpilih Rektor UNJ yang definitif.

DSC_8302Saat melakukan konferensi pers dengan sejumlah rekan media usia upacara pagi tadi, Intan menuturkan bahwa untuk membenahi program pascasarjana, strategi yang baik adalah dengan mempelajari permasalahan yang ada secara mendalam, dan untuk keperluan tersebut, Intan berencana membuat tim kerja pendamping yang terdiri dari pihak Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, sejumlah civitas akademika UNJ, serta dosen-dosen dari kampus lain. Melalui tim tersebut, diharapkan akan ada pertukaran gagasan dan pemikiran dengan tujuan untuk merumuskan berbagai hal sebagai upaya mengembalikan nama baik UNJ.

“Hal tersebut sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan dalam dunia pendidikan, untuk selalu mengarah ke perbaikan, karena pendidikan itu sifatnya universal. Yang harus selalu diperhatikan adalah hal-hal seperti bagaimana mengajar yang baik, bagaimana melakukan penelitian sesuai kaidah keilmuan, bagaimana program pembimbingan seharusnya dilakukan, apakah lulusan sudah sesuai dengan capaian pembelajaran dan SNDIKTI, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Sebelumnya, Intan juga sempat bertatap muka dengan Senat Universitas Negeri Jakarta pada Kamis lalu (28/9). Dalam diskusi yang dilangsungkan pada pertemuan tersebut, Intan menyatakan bahwa terdapat tiga fokus utama yang harus dijalankan, yaitu recovery untuk mengembalikan situasi di UNJ, reform program pascasarjana, dan rekonsiliasi. Ketiganya akan dapat dilaksanakan secara optimal dengan kerja sama yang baik antar civitas akademika. (DRT/Editor/HKLI)