Serukan Pancasila Di Titik Nol Kilometer Indonesia

Merauke – Belmawa. Sebagai Warga Negara Indonesia, sudah menjadi kewajiban untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari segala ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pun turut berupaya untuk menangkal bahaya yang mengancam NKRI, seperti bahaya radikalisme. Untuk itulah Kemenristekdikti dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menggagas kegiatan Deklarasi Kebangsaan, Pernyataan Sikap Kesetiaan terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, yang dilaksanakan pada Senin lalu (21/8) di titik nol kilometer Indonesia, Distrik Sota, Merauke.

Sebanyak 93 Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang tergabung dalam MRPTNI mengikuti kegiatan yang bertempat di Taman Tapal Batas Negara antara Republik Indonesia dan Papua Nugini tersebut. Tampak hadir pula Bupati Kabupaten Merauke, Ketua MRPTNI, para Tokoh Adat, para Tokoh Masyarakat Papua, dan Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), para pejabat sipil dan militer, serta sejumlah civitas akademika.

Deklarasi Kebangsaan disampaikan oleh Bupati Kabupaten Merauke, Frederikus Gebze, dengan menyerukan bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika bangsa Indonesia sudah lepas dari penjajahan untuk mempertahankan keutuhan negara. Kemudian dilakukan penandatanganan naskah Deklarasi Kebangsaan oleh seluruh rektor PTN dengan dipimpin oleh Ketua MRPTNI, Herry Suhardiyanto, dan disaksikan oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad.

Dalam sambutan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, disampaikan bahwa deklarasi tersebut merupakan bentuk penegasan dan komitmen bersama untuk melawan dan menolak paham dan gerakan yang dapat melemahkan ideologi dan dasar negara.

Pihaknya menyampaikan pentingnya berpegang teguh terhadap lima nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai pandangan hidup (philosophy of life), sebagai filter dalam menghadapi arus globalisasi dan segala tantangan abad ke-21.

“Akan banyak upaya menggoyahkan keutuhan NKRI, bahkan kini intensitasnya meningkat dan disinyalir mahasiswa bersama unsur civitas akademika lainnya di perguruan tinggi menjadi sasaran upaya penghancuran NKRI melalui berbagai cara. Hal ini perlu menjadi fokus dan perhatian kita bersama, karena perguruan tinggi akan membentuk generasi penerus Bangsa Indonesia dimasa depan,” tutur Intan.

Lebih lanjut Intan menambahkan, bahwa segenap civitas akademika lainnya perlu memiliki kesadaran untuk senantiasa melestarikan ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara, pandangan hidup Bangsa dan pemersatu Bangsa melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Untuk itu, saya berharap agar pimpinan perguruan tinggi dapat meningkatkan pengawasan dan melakukan tindakan tegas terhadap berbagai aktivitas yang dapat merongrong kekokohan Pancasila dan keutuhan NKRI,” ujarnya menyampaikan pesan Menristekdikti.

Intan menyampaikan bahwa kampus harus tetap menempatkan diri sebagai institusi aktif yang netral dan non-partisan dalam kaitannya dengan keberadaan dan kegiatan di setiap kelompok, golongan, atau kekuatan politik yang ada di masyarakat.

“Semoga perguruan tinggi mampu tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual yang dapat diandalkan bagi Indonesia yang sedang membangun ini dan menjadikan Indonesia menjadi negara madani (civilized) yang lebih aman, damai, maju dan sejahtera,” tutupnya. (DRT/Editor/HKLI)