Budaya Mutu Pendidikan Tinggi Perlu Ditingkatkan

DSC_5442Makassar – Belmawa. Peningkatan kualitas pendidikan tinggi tidak hanya tugas dari mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta, melainkan tugas bersama antara yayasan, pimpinan, dan civitas akademika. Berangkat dari pentingnya hal tersebut, Direktorat Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan melaksanakan Seminar Budaya Mutu Kepada Pimpinan Perguruan Tinggi sebagai salah satu kegiatan dalam rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22, di Hotel Singgasana Makassar, pada 9 Agustus 2017.

“Semua unsur di dalam perguruan tinggi harus berkomitmen agar kondisi penjaminan mutu dapat berjalan dengan baik. Mari manfaatkan momen ini dengan baik dan mengimplementasikannya di perguruan tinggi masing-masing,” ujar Direktur Penjaminan Mutu Aris Junaidi, pada saat membacakan laporan kegiatan.

Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Andi Niartiningsih menyambut dengan sangat baik kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Andi sangat berterimakasih kepada Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan yang telah melaksanakan Program Penguatan Kopertis dan Program Asuh, yang sangat membantu dalam peningkatan penjaminan mutu di Kopertis Wilayah IX.

Selama ini masih banyak yang beranggapan bahwa indikator mutu perguruan tinggi dilihat dari IPK lulusannya. Dalam hal tersebut, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad menghimbau pada seluruh peserta seminar yang terdiri dari pimpinan-pimpinan perguruan tinggi di wilayah Sulawesi dan beberapa perwakilan dari seluruh Indonesia, untuk kembali mempertanyakan korelasi antara ipk mahasiswa dengan mutu perguruan tingginya.

“Mutu perguruan tinggi harus diperbaiki, dan kita sebagai pelaku pendidikan tinggi harus berani melakukan evaluasi diri agar menghasilkan lulusan yang lebih baik dan berkompeten, dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,” himbau Intan pada saat membuka seminar tersebut.

IMG_20170809_090515Budaya mutu bukan hanya keharusan di Perguruan Tinggi Negeri saja, namun juga merupakan keharusan di Perguruan Tinggi Swasta dan perguruan tinggi lainnya. “Seminar ini merupakan kesempatan yang baik untuk sharing mengenai budaya mutu. Peningkatan mutu tidak hanya dengan mengisi borang saja, namun juga dengan meningkatkan mutu internalnya melalui Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). SPMI perlu diimplementasikan dan diperkuat untuk mengembangkan budaya mutu, agar akreditasi yang dipotret oleh BAN-PT sudah menggambarkan budaya mutu perguruan tingginya,” lanjut Intan.

Dalam seminar tersebut, beberapa pembicara memaparkan materi-materi terkait dengan upaya peningkatan mutu. Pada sesi pertama, Direktur Penjaminan Mutu Aris Junaidi memaparkan Strategi dan Kebijakan Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, sebagai dasar dan acuan bagi pengembangan budaya mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Sesi selanjutnya adalah paparan dari narasumber, yaitu sebagai berikut.

  • “Membangun Budaya Mutu Pendidikan Tinggi”, oleh Prof. Sudjarwadi, mantan rektor Universitas Gajah Mada periode 2007-2012.
  • “Kepemimpinan dan Manajemen Perubahan”, oleh Prof. Riri Fitri Sari, Guru Besar Teknologi Informasi Universitas Indonesia.
  • “Internalisasi Kebijakan Sistem Penjaminan Mutu Internal”, oleh Dr. Kuncoro Foe, Rektor Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya.
  • “Berbagi Praktik Baik Membangun Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi”, oleh Dr. Ilya Fadjar Mahardika, Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia, sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta dengan akreditasi A.
  • “Berbagi Praktik Baik Membangun Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi”, oleh Prof. Dirayah Rauf Husain dari Universitas Hasanuddin, sebagai perwakilan dari perguruan tinggi di wilayah Sulawesi.

Sejumlah lebih dari 150 peserta yang terdiri dari pimpinan perguruan tinggi dan ketua yayasan di Kopertis Wilayah IX, Kopertis Wilayah XII, dan Kopertis Wilayah XIV sangat antusias memperhatikan materi para pembicara, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait budaya mutu pendidikan tinggi. Diskusi yang sangat hidup berlangsung hingga sore hari, dan diharapkan dapat memberikan bekal bagi perbaikan mutu perguruan tinggi yang diwakili oleh peserta tersebut nantinya. (DRT/Editor/HKLI)