Home » Berita

Perintisan Cooperative Education Di Perguruan Tinggi Indonesia

31/07/2017

Julian Noor dari Asosiasi Asusarani Umum Indonesia (AAUI ), dalam suatu kesempatan, menyatakan Industri jasa asuransi saat ini membutuhkan 1000 (seribu) aktuaris Hal ini sejalan dengan tumbuh pesatnya industry jasa keuangan dan perbankan. Karenanya, hal ini  menjadi tantangan Perguruan Tinggi untuk dapat memenuhi kebutuhan ini.  Kalau  tidak, akan terjadi impor tenaga profesioanal  dari negara lain. Aktuaris menjadi salah satu sumber daya strategis, “think tank”, praktisi profesional untuk pengembangan dan operasional industri asuransi.

Di sisi lain, Perguruan tinggi yang menjadi garda terdepan dalam penyediaan aktuaris belum banyak  memiliki program aktuaria. Bahkan, belum ada satupun perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki Prodi tersendiri bidang aktuaria. Program aktuaria baru sebagai bidang konsentarsi dari Prodi Matematika dan Prodi Statistik hanya ada di beberapa perguruan tinggi.  ITB, misalnya,  akturia menjadi konsentrasi dari Prodi Matematika. di IPB, aktuaria merupakan konsentrasi dari Prodi Statistika.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas,  Kemenristekdikti menugaskan  9 (Sembilan) perguruan tinggi mitra yaitu UI, ITB, IPB, UGM, ITS, Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Parahyangan (Unpar), Universitas Prasetya Mulya dan Universitas Surya untuk pengembangan Prodi Aktuaria dan melakukan kerja sama dengan Universitas Waterloo Canada dalam rangka pengembangan Cooperative Education, READI.

Kerjasama pengembangan Program Aktuaria ini diwujudkan dengan melibatkan beragam pihak a.l. Otoritas Jasa Keuangan dan Kemenristekdikti serta   Universitas Waterloo Canada. Universitas ini menyediakan bantuan hibah untuk pengembangan program aktuaria melalui  program READI PROJECT atau Risk Management, Economic Sustainability and Actuarial Science Development in Indonesia, yang  merupakan proyek dengan bantuan dana dari Global Affairs Canada  dan juga melibatkan PT Manulife Indonesia dan Sun Life Financial sebagai pengguna tenaga profesi aktuaria. Secara umum, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas lulusan ilmu aktuaria di Indonesia serta permintaan profesi Aktuaris di Indonesia.

Salah satu program dalam proyek READI adalah Cooperative Education and Work Integrated Learning (WIL) yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa dengan cara mengkombinasikan studi akademis dengan pengalaman bekerja di perusahaan. Co-operative Education memberi bekal soft skill dan professional skill set kepada mahasiswa sehingga mereka lulus dengan nilai tambah (value added) dan proyek ini terintegrasi dengan pengalaman kerja di perusahaan sebagai tenaga kerja professional.  Cooperative Education merupakan model pembelajaran yang relatif baru bagi Pendidikan tinggi di Indonesia.   Dari dunia industri diundang ManuLife, Sun Life Finansial, Zurich Life, Prudential, Mandiri Inhealth, AAUI, AXA Indonesia, CAR, Sequislife serta Avrist Assurance.

Perguruan tinggi di Indonesia diharapkan dapat mengembangkan dan menerapkan model Cooperative Education. Melalui Cooperative Education Program S-1, mempersiapkan mahasiswa dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan kompetensi untuk dunia kerja. Pilot Project akan dilaksanakan setidaknya oleh dua perguruan tinggi. Keberhasilan Pilot Project menjadi pendorong bagi perguruan tinggi lain untuk dapat menerapkan program Cooperative Education.  Program “link and match” perguruan tinggi dan dunia industry ini, tentu, sangat didukung  Kemenristekdikti. (HS/editor/HKLI).