Home » Berita

Menghadapi Tantangan Komunikasi Global

06/05/2017

Jakarta – Bemawa. Kemudahan akses informasi dalam era teknologi menyebabkan munculnya banyak tantangan baru bagi umat manusia. Dalam rangka menghadapi tantangan global dalam bidang informasi dan semarak worldpressday, Universitas Pancasila menyelenggarakan simposium internasional dengan tema “Peace Journalism and Conflict Resolution” pada tanggal 4-7 Mei 2017. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh ORBICOM (The International Network of Unesco Chairs in Communication) setiap satu tahun sekali.

Di Asia Tenggara, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila merupakan cabang pertama dari ORBICOM. ORBICOM terdiri dari 71 anggota dari 37 negara yang terdiri dari para professor, akademisi, dan peneliti. Pada tanggal 13 November 2016, cabang pusat kajian FIKOM Universitas Pancasila didirikan dengan nama COSDEV (Communication and Sustainable Development).

Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari tersebut diikuti oleh peserta dari beberapa negara. Mendatangkan 200 peserta pada acara pembukaan, sebanyak 100 peserta akan mengikuti beberapa agenda yang diselenggarakan dalam kegiatan yang dilangsungkan selama tiga hari tersebut. Beberapa keynote speaker ternama menyampaikan paparan pada hari pertama simposium, yaitu Tun Sri Mahattir Mohammad (Mantan Perdana Menteri Malaysia), Irina Bocova (UNESCO Director-General), Bertnard Cabedoche (Presiden ORBICOM), Yves Théorêt (General Secretary ORBICOM), dan Andi Faisal Bakti (Dekan Fikom UP dan Kepala pusat COSDEV Chair ORBICOM Indonesia).

_MG_1449Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Intan Ahmad turut memberikan sambutan dan membuka acara tersebut. Intan meyakinkan bahwa Indonesia kaya akan budaya dengan 300 kelompok etnis dan 700 macam bahasa daerah. Namun, seiring dengan multikulturalisme di Indonesia, tantangan mulai muncul, dan menuntut Indonesia agar menjadi lebih kompetitif, salah satunya adalah melalui pendidikan tinggi.

“Perguruan tinggi saat ini tidak hanya berperan sebagai agen pendidikan dan agen penelitian, tapi juga sebagai agen budaya, teknologi, dan pendidikan tinggi, dan pembangunan ekonomi,” jelas Intan.

Dalam simposium ini, ditekankan bahwa media yang damai diperlukan untuk menghadapi tantangan komunikasi global. Untuk tujuan itulah beberapa ahli komunikasi hadir untuk bertukar pikiran dalam bentuk round table and discussion. Harapannya, dalam kegiatan tersebut mampu diidentifikasi berbagai jenis konflik komunikasi dan budaya dengan berbagai macam perspektif. Melalui kegiatan tersebut juga diharapkan agar membantu para peserta dalam memahami akar konflik dan mencari solusi dalam konteks komunikasi antar budaya dan menyelesaikan konflik di seluruh dunia pada tingkat lokal dan nasional. (HLMY/Editor/HKLI)