Home » Berita

Intan Ahmad: Kuncinya Adalah Kualitas

18/03/2017

Palangkaraya – Belmawa. Budaya mutu sedang gencar digelorakan dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Tak hanya untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) saja, namun seluruh Institusi Pendidikan Tinggi termasuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Tak hanya mutu secara institusional saja, mutu mahasiswa juga perlu menjadi sorotan, terutama di luar akademik seperti kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Hal tersebut yang dibahas dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Kopertis Wilayah XI yang dilaksanakan pagi tadi (18/3).

Setelah pembahasan mengenai Problem Pendidikan Tinggi di Indonesia dan Kebijakan Kelembagaan Pendidikan Tinggi oleh Direktur Jenderal Kelembagaan Patdono Suwignjo pada hari pertama Rakerwil kemarin (17/3), Koordinator Kopertis Wilayah XI Idiannor Mahyudin membuka acara hari kedua dengan menjelaskan secara singkat kondisi PTS di Kopertis Wilayah XI Kalimantan. Terkait dengan peningkatan mutu, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Intan Ahmad menyampaikan bahwa mutu pendidikan tinggi berupa kebijakan dan wawasan di PTS perlu ditingkatkan, sebagai salah satu rangkaian upaya menghasilkan lulusan yang berdaya saing.

Intan menekankan bahwa peningkatan budaya mutu melalui diseminasi kampus dan dalam menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan upaya dalam menyiapkan sistem pendidikan Indonesia  untuk menghadapi tantangan globalisasi, kompleksitas abad 21, dan meningkatkan daya saing bangsa.

DSC_8241“Dosen perlu mengajarkan realitas lingkungan kepada mahasiswa. Meskipun saat ini mungkin dirasa kurang relevan dengan materi pendidikan tertentu, namun nanti bisa saja menjadi relevan pada saat mereka menghadapi dunia kerja, yang sangat berbeda dengan pada saat mereka masih berkuliah,” papar Intan. Dalam kesempatan tersebut, Intan menegaskan bahwa dosen tidak hanya bertanggungjawab untuk menciptakan suasana akademik pada saat mengajar saja, namun juga wajib meluangkan waktu untuk mahasiswa yang ingin berkonsultasi.

Dalam menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), bidang keilmuan harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh dunia industri, yaitu pekerja terampil. “Jika Indonesia sudah mampu mencetak lulusan-lulusan yang memiliki keterampilan industri, maka pendidikan tinggi Indonesia mampu mengurangi angka pengangguran,” tambah Intan.

“Jangan sampai kita menghasilkan lulusan dengan prestasi tinggi tapi susah cari kerja,” tegasnya. Untuk itu selain melalui pendidikan vokasi, Intan kembali menyerukan pentingnya proses pembelajaran yang sesuai dengan mutu, serta perlunya institusi pendidikan untuk terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikannya melalui akreditasi. Tak hanya terkait pembelajaran, namun juga akreditasi secara keseluruhan.

“Ada kecenderungan bahwa ketika perguruan tinggi berakreditasi C, maka lulusannya dianggap bermutu C juga. Untuk itu seluruh perguruan tinggi harus berlomba untuk meningkatkan akreditasinya, serta meningkatkan proses pembelajaran agar sesuai dengan mutu. Kuncinya adalah kualitas,” lanjutnya.

Di hadapan seluruh perwakilan Perguruan Tinggi Swasta Kopertis Wilayah XI, Intan Ahmad kembali menegaskan bahwa keunggulan dan kelemahan lulusan bergantung pada kualitas institusi dan pendidiknya. Untuk itu setiap perguruan tinggi harus mengejar peningkatan akreditasi dan menyesuaikan kurikulum pembelajaran sebagai bentuk evaluasi diri.

IMG_0545Sebelum melanjutkan ke sesi berikutnya, dilakukan penyampaian penghargaan terhadap Perguruan Tinggi Swasta yang berakreditasi B dan dosen-dosen terbaik dalam menulis jurnal nasional dan internasional di lingkungan Kopertis Wilayah XI. (DRT/Editor/HKLI)

 

 

Gallery