Home » Berita

Kebutuhan Penjaminan Mutu di Bisnis Industri dan Pendidikan Tinggi

08/02/2017

Jakarta – Belmawa. Budaya mutu erat kaitannya dengan sistem yang diterapkan di institusi. Sering kali sistem penjaminan mutu tidak dilihat dari sudut pandang pengguna, baik dari Pendidikan Tinggi maupun dari bidang bisnis industri. Hal tersebut yang berusaha dikupas dalam diskusi panel di hari kedua 4th SHARE National Workshop On The Impact of Qualifications Framework and Regional Quality Assurance Standards on Indonesian Higher Education pada Selasa lalu (7/2).

Yang menjadikan diskusi ini lebih unik dari diskusi sebelumnya adalah pembicara yang menyampaikan paparan berasal dari industri yang berbeda-beda. Sesi pertama diisi oleh perwakilan dari Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), CEO dari startup yang sedang naik daun yaitu Bukalapak, Presiden Direktur PT Patra Badak Arun Solusi, dan Direktur Politeknik Manufaktur Astra.

Dalam diskusi tersebut, Wakil Ketua Bidang Hotel IHGMA Ferdy Arminius menyampaikan bahwa sebenarnya semua orang dapat menjalankan bisnis yang menyediakan jasa, hanya saja masih banyak yang tidak tahu cara mengelola bisnis tersebut dengan baik. Ferdy mencontohkan bisnis perhotelan, dimana perbedaan kualitas pelayanan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penilaian mutu.

20170207_4th SHARE National Workshop_Day 2_069CEO Bukalapak Achmad Zaky juga menyambung pernyataan tersebut, dimana masih ditemui banyak sekali lulusan yang bekerja bukan di bidang yang dikuasai. Dalam dunia industri, supply-nya sangat sedikit. Zaky menyampaikan bahwa masih banyak universitas yang sampai saat ini masih menggunakan teknologi yang sudah bukan masanya. Masih banyak pula yang menggunakan sertifikasi dari brand tertentu, melakukan pelatihan berdasarkan brand tersebut. Jika brand tersebut sudah tidak beroperasi, maka sertifikasi tersebut akan menjadi sia-sia. “Masyarakat harus dapat menyesuaikan dengan perubahan dan teknologi, dan keterampilan tersebut dapat didapatkan dari dalam universitas itu sendiri. Rata-rata masyarakat masih terlalu idealis. Sebetulnya pragmatisme itu penting, utamanya dalam hal problem solving, pentingnya hasil-hasil kecil dalam mencapai tujuan utama,” jelasnya.

Hal tersebut didukung oleh Presiden Direktur PT Patra Badak Arun Solusi Nanang Untung, salah satu anak perusahaan Pertamina. Nanang menyampaikan perlunya pendidikan yang lebih spesifik agar keterampilan lulusannya dapat digunakan dalam dunia industri. Tony Silalahi selaku Direktur Politeknik Manufaktur Astra turut memberikan penekanan pada kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai Kerangka Kerja Kualifikasi Indonesia di dalam dunia kerja. “Institusi pendidikan seharusnya mendiskusikan kerangka kerja kualifikasi dengan para siswanya, agar siswa tersebut nantinya akan menjadi tahu kualifikasi apa saja yang diperlukan dalam pendidikan serta setelah lulus dan menjadi user dalam dunia kerja,”  tegasnya.

Diskusi tersebut membukakan mata bahwa masih banyak sekali institusi pendidikan yang belum berorientasi pada capaian pembelajaran dalam kerangka kerja kualifikasi, sehingga lulusan yang dihasilkan masih banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Untuk itu dibutuhkan transparansi dan sosialisasi mengenai kualifikasi yang diperlukan dengan seluruh siswa di institusi pendidikan, agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan bidang yang dikuasai. (DRT/Editor/HKLI)

Gallery