Home » Berita

Kegiatan Kampus Harus Memperketat Pengawasan

27/01/2017

Yogyakarta – Belmawa. Terkait dengan tragedi Pendidikan Dasar (Diksar) “The Great Camping”, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) yang menewaskan tiga mahasiswa, Kamis lalu (26/1) Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir didampingi oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Intan Ahmad bertolak ke Yogyakarta. 

Insiden tersebut mendapatkan perhatian serius dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), yang kemudian menemui pihak yayasan dan rektorat UII, koordinator Kopertis Wilayah V, dan pihak kepolisian. “Kasus yang diduga ada unsur kekerasan ini harus diusut tuntas sesuai prosedur hukum yang berlaku,” tegas Nasir.

Dalam kunjungan tersebut, Menristekdikti didampingi Dirjen Belmawa tidak hanya menggelar press conference di kantor Kopertis Wilayah V di Jalan Tentara Pelajar No. 13 Bumijo Jetis, Yogyakarta, namun juga melayat ke rumah duka salah satu korban Diksar Mapala UII serta menjenguk 10 orang mahasiswa Diksar yang dirawat di Rumah Sakit Jogjakarta International Hospital (JIH).

IMG_7838Dikatakan dalam jumpa pers tersebut, kegiatan Diksar Mapala tidak dilarang di semua kampus. “Pihak kampus harus memperketat pengawasan, terutama terkait prosedur keselamatan dan standar operasi kegiatannya,” tegas Nasir.

Nasir menegaskan bahwa peraturan menteri sudah sangat jelas melarang segala bentuk kekerasan di perguruan tinggi, baik kekerasan dalam bentuk verbal, fisik maupun psikis. “Saya menyesalkan. Ini tidak boleh terjadi, saya tekankan tidak boleh lagi ada kekerasan di dalam kampus di seluruh Indonesia, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Setiap kegiatan di luar kampus harus diawasi oleh dosen pendamping agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti ini,” tambahnya kemudian. (DRT/Editor/HKLI)