Home » Berita

Forum On AQRF in Tourism and ICT Kontribusi Berharga Menghadapi Situasi Global

14/12/2016

Jakarta – Belmawa.  High-Level Forum on Referencing Asean Qualification Reference  Framework (AQRF) to Indonesian Qualification Framework (IQF) in Tourism and Information Communication Technology (ICT) – Massive Open Online Courses (MOOCs) merupakan forum kerjasama antar negara ASEAN dalam ruang lingkup  sektor pendidikan dan pelatihan dengan tujuan utama promosi belajar sepanjang hayat. AQRF secara khusus melakukan proses kolaborasi sesama anggota ASEAN dan mendapat dukungan dari Australia dan New Zealand, Kegiatan bersama yang disebut the ASEAN – Australia-New Zealand Free Trade Area  (AANNZFTA) merupakan program kerja Kerjasama Ekonomi (ECWP). Untuk dukungan tersebut, Direktorat Pembelajaran Belmawa perlu menyelenggarakan kegiatan High Level Forum di Jakarta pada 13-14 Desember 2016.

Dalam laporan awal, Dr Paristiyanti, direktur Pembelajaran Belmawa menyampaikan  bahwa “forum ini lebih khusus,  mengeksplorasi apa yang kita ketahui dan apa yang kita tidak tahu  tentang sifat dan tingkat pergerakan profesional dalam ASEAN hari ini. Meningkatkan hubungan dan komunikasi di antara negara-negara telah menghasilkan manfaat nyata seperti perdagangan jasa. Ekonomi nasional telah menjadi semakin saling berhubungan, pergerakan pekerja terampil sekarang salah satu kunci daya saing negara. Menurut banyak sumber, sukses Masyarakat Ekonomi ASEAN bisa meningkatkan output agregat sebesar 7% pada tahun 2025, menghasilkan 14 juta pekerjaan tambahan, “ Ungkapnya dengan penuh semangat.

Paristiyanti menambahkan “antara tahun 2005 dan 2012, Pemerintah negara-negara anggota ASEAN menandatangani Mutual Recognition Arrangements (MRA) didelapan pekerjaan (engineering, keperawatan, arsitektur, kedokteran, kedokteran gigi, dan pariwisata, survei dan akuntansi).  Pekerjaan pekerjaan tersebut berbeda dalam tingkatan ASEAN, seperti sebagian dapat dilihat dari posisi negara, berkaitan dengan Referensi Kualifikasi Kerangka Kerja ASEAN (AQRF).

Empat Pilar Pertumbuhan Masa Depan

Dirjen Belmawa, Prof Intan Ahmad, mengawali pembukaan acara, memberikan sambutan dan arahan dengan mengutip Julia Gillard, mantan perdana menteri Australia, ketika ia mengomentari persaingan global (global competitiveness). “Our future growth relies on competitiveness and inovation, skill and productivity .. and these in turn rely on the education of our people”  Paling tidak ada 4 (empat) hal yang menjadi pilar pertumbuhan masa depan. Daya saing, inovasi, keahlian dan produktifitas. Ke empat pilar itu sangat bergantung pada pendidikan masyarakat. Daya saing global, ujar Intan, merupakan konsep baru dalam ekonomi modern dan satu instrumen yang bertujuan untuk mengkaji kemampuan  bangsa dalam memberikan kemakmuran tinggi bagi masyarakat.AQRF1

Dalam forum ini dibahas berbagai aspek terkait AQRF. AQRF adalah kerangka acuan umum yang membandingkan kualifikasi pendidikan di seluruh negara anggota ASEAN (AMS) dan mengundang keterlibatan sukarela.

Dr Gatot Hari Priowirjanto, SEAMEO Secretariat Director menyampaikan 7 (tujuh) prioritas SEAMEO yang dikenal dengan SEAMEO’s Seven Priorities, yaitu (1) Mempromosikan perawatan anak usia dini dan pendidikan, (2) Mengatasi hambatan untuk inklusi, (3) Mempersiapkan sekolah pemimpin, guru, siswa dan masyarakat lokal terhadap ketahanan dalam menghadapi keadaan darurat, (4) Mempromosikan pendidikan teknis dan kejuruan dan pelatihan (TVET) antara peserta didik dan orang tua mereka, (5) Revitalisasi pendidikan guru dan membuat mengajar profesi pilihan pertama, (6) Mempromosikan harmonisasi dalam pendidikan tinggi dan penelitian, (7)  Mengadopsi kurikulum yang benar-benar abad 21.  

Perubahan Ketenaga-kerjaan oleh sektor industri

Dalam US Bureau of Labor Statistic as of December 2015 disebutkan secara  jelas pekerjaan dibidang keperawatan menjadi primadona dalam lapangan pekerjaan dunia, sementara pariwisata dan perhotelan ada di urutan ketiga. Melalui Forum AQRF ini, diharapkan dapat memperkuat kerjasama di bidang pariwisata dan ICT  antara negara-negara anggota ASEAN dengan membuat berbagai pelatihan MOOCs atau Massive Open Online Course. MOOCs akan menjadi  gerbang inovasi untuk meningkatkan Pendidikan, juga memberikan dukungan untuk mengakses kualitas pendidikan dan pelatihan yang lebih tinggi, sekaligus menjadi jalur pembelajaran baru terhadap pendidikan tinggi dan belajar seumur hidup.

Presentasi disampaikan berbagai narasumber anggota negara-negara ASEAN ini akan memperkaya khasanah kerjasama 8 (delapan) pekerjaan yang sedang digarap melalui kerja sama pendidikan Tinggi dan Industri  sehingga semua lulusan pendidikan tinggi akan memiliki high quality skill yang dibutuhkan oleh dunia Industri. Harapan 4 pilar pertumbuhan masa depan yang disampaikan Prof Intan diawal forum menjadi sebuah kenyataan pada waktunya. (AS/Editor/HKLI)