Minimalisir Disparitas Pendidikan Tinggi Lewat Proses Akademik Berkualitas

Upload-Menristek-rakernas-yogyaYogyakarta – Belmawa.  Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan bahwa saat ini Kemristekdikti masih terus berusaha meningkatkan proses kualitas dan mutu pembelajaran di Perguruan Tinggi.

“Bila kita lihat dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, program peningkatan kualitas pembelajaran mulai berhasil meningkat. Penyempurnaan dari beberapa kebijakan yang sudah berjalan terus dilakukan,” ucap Nasir.

Hal tersebut dikatakan Nasir didepan para Pimpinan Perguruan Tinggi dan Kopertis seluruh Indonesia di Jogjakarta, minggu (4/12), saat memberikan pengarahan dalam acara Rapat Kerja Nasional Program Pembelajaran dan Kemahasiswaan yang diinisiasi oleh Ditjen Belmawa Kemristekdikti.

Hal yang sangat penting menurut Nasir, untuk daya saing dalam persaingan global kalau kita ingin melahirkan produk yang berkualitas, bila pendidikan tinggi menghasilkan riset-riset di bidang sains dan teknologi. “Masalah riset ini ujungnya akan berimplikasi pada jumlah publikasi internasional juga. Kita masih kalah dari Malaysia dan Singapura, ini harus kita kejar terus,” tuturnya.

Masalah Disparitas

Nasir ungkapkan bahwa permasalahan Pendidikan Tinggi di Indonesia adalah adanya masalah disparitas kualitas. Perbandingan antara semakin banyaknya Perguruan Tinggi di Indonesia yaitu sekitar 4.400 Perguruan Tinggi, belum mampu ditopang dengan banyaknya lulusan dosen S2 maupun S3. Namun demikian, kata Nasir, program Kementerian sudah dapat meminimalisir masalah tersebut.

“Penataan dan penertiban di lingkup Perguruan Tinggi sudah dilaksanakan, antara lain pembinaan Perguruan Tinggi yang kedapatan bermasalah, dan penataan NIDK, revitalisasi LPTK tidak hanya kelembagaan tetapi juga kurikulumnya, revitalisasi vokasi, Penomoran Ijazah Nasional (PIN) dan SIVIL untuk menghindari ijazah palsu,” ucapnya. Lanjut Nasir, penataan untuk mendukung kualitas pembelajaran dari sisi lain juga dilakukan. Antara lain dengan akreditasi institusi dan akreditasi program studi.

“Saat ini sekitar 1.019 akreditasi institusi untuk Perguruan Tinggi sudah selesai dan baru 26 yang berakreditasi A dan yang B jumlahnya 302, sementara akreditasi prodi sudah mencapai angka 17.114 dari 24.638 prodi, yang berkareditasi A jumlahnya 2.164. Sisanya menyusul dan terus kita tingkatkan kualitasnya. Artinya apa, harus kita lakukan, agar mahasiswa dan lulusan Perguruan Tinggi kualitasnya naik terus,” tuturnya.

Untuk mahasiswa, Nasir berpesan agar mahasiswa jangan dilibatkan dalam komoditi perpolitikan kampus, tapi arahkan terus dan dorong mahasiswa untuk meningkatkan minat, bakat dan kreativitasnya di masa depan agar lebih baik lagi dari sekarang.

Sementara itu Dirjen Belmawa Intan Ahmad menjelaskan bahwa optimalisasi peran Pendidikan Tinggi untuk mendukung pengembangan Iptek harus didukung antara lain oleh mahasiswa sebagai daya kreatif inovatif, lulusan mahasiswa yang kreatif inovatif dan memahami permasalahan bangsa, peningkatan jumlah mutu penelitian.

Intan menambahkan saat ini program-program Ditjen Belmawa sudah banyak yang dirancang agar kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan bertambah. Apalagi dengan adanya Standar Nasional Pendidikan Tinggi, KKNI dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), Intan yakin mutu akademik akan meningkat tajam.

“Banyak sekali program kami, SPMI Online, RPL, PHBD, Beasiswa Bidikmisi, Peksiminas, dan lainnya. Kami yakin dalam beberapa waktu kedepan, mutu akademik dan daya saing bangsa kita meningkat drastis,” ujarnya di sela acara yang juga mendatangkan pembicara utama seperti perwakilan BNPT itu. (DZ/Editor/HKLI)