Home » Berita

Penerapan SPMI dan Audit Mutu Internal bagi PTN Baru di Universitas Tidar

19/10/2016

Magelang – Belmawa (18/10-2016). Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah mengubah status sejumlah perguruan tinggi swasta menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Perubahan status perguruan tinggi swasta menjadi negeri dilakukan dalam rangka perluasan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Universitas Tidar Magelang (UTM) melalui upaya keras dan dukungan berbagai pihak telah berubah statusnya menjadi PTN Baru berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 23 Tahun 2014 pada tanggal 1 April 2014. Manfaat UTM sebagai PTN antara lain adanya peningkatan jumlah pendaftar mahasiswa baru dan lebih terfokus dan terencananya program dan kegiatan UTM.

Dalam rangka kegiatan peningkatan Layanan Mutu Program Studi Tahun Anggaran 2016, Tim Direktorat Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi berkunjung ke Universitas Tidar Magelang (18/10-2016) guna melaksanakan pendampingan penerapan SPMI, khususnya terkait pelaksanaan Audit Mutu Internal bagi PTN Baru. Tim Direktorat Penjaminan Mutu terdiri dari Prof. Kusminarto dan Dr. Setyo Pertiwi selaku Fasilitator Tim Pengembang SPMI Pusat dan Dr. Markus Budiharjo selaku Fasilitator Wilayah, didampingi oleh Kepala Seksi Peningkatan Mutu, Octa Nugroho.

Hadir dalam acara tersebut Rektor UTM, Prof. Cahyo Yusuf dan segenap jajarannya: Wakil Rektor Bidang Akademik, Kepala LPPM (Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat dan Penjaminan Mutu), Dekan, Kepala Prodi, dan Dosen UTM. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa penerapan SPMI telah dilaksanakan di UTM walaupun dalam beberapa hal masih memerlukan perbaikan dan peningkatan. Sementara untuk Audit Mutu Internal belum bisa terlaksana secara rutin. Disampaikan juga bahwa perguruan tinggi menyadari bahwa tanggung jawab atas mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak sepenuhnya di tangan pemerintah. Perguruan tinggi juga berperan bahkan sebagai pelaku utama, agar segenap dosen harus menjaga kualitas pendidikan, terutama dari diri sendiri, seperti kedisiplinan.UTM2

Dalam acara tersebut Prof. Kusminarto menjelaskan bahwa dalam rangka meningkatkan mutu, maka perguruan tinggi harus berorientasi pada budaya mutu dalam jangka panjang, jangan hanya berorientasi pada akreditasi saja, sehingga terjadi “gobyokan” atau kesibukan setiap 5 tahun sekali untuk mendapatkan akreditasi sebaik-baiknya. Dalam diskusi dan tanya jawab antara fasilitator dengan dosen UTM terkait penjaminan mutu dan audit mutu internal perguruan tinggi, satu persatu permasalahan terkait penjaminan mutu dan audit mutu internal di UTM disampaikan para peserta. Para fasilitator memberikan pandangan dan solusinya. Diskusi berlangsung hangat dan terbuka di hadapan pimpinan UTM sehingga solusi dan tindaklanjut dari hasil diskusi bisa langsung diperhatikan oleh pimpinan UTM.

Acara diakhiri dengan penyerahan sejumlah buku dari fasilitator, dimana diharapkan buku tersebut dapat berguna untuk meningkatkan budaya mutu di UTM.  Pada akhir acara Dr. Setyo Pertiwi menegaskan kembali bahwa penjaminan mutu pendidikan tinggi merupakan kegiatan sistemik untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara terencana dan berkelanjutan. Berbagai program SPMI telah dilaksanakan oleh Direktorat Penjaminan Mutu, Kemenristekdikti diharapkan mempunyai dampak positif dalam meningkatkan PT dan prodi berkualitas unggul di Indonesia. (oct-hz/Editor/HKLI)