Home » Berita

Meningkatkan Kualitas Lulusan Keperawatan Lewat Uji Kompetensi

11/10/2016

Bandung – Belmawa. (8/10/16), Era globalisasi mengharuskan tenaga kesehatan berbenah diri. Peluang dan tantangan yang menghadang harus diterobos (breakthrough) dengan peningkatan mutu dan profesionalisme yang hanya dapat dicapai dengan melakukan pelayanannya sesuai dengan standar profesinya. Standar profesi sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996, Pasal 21 dan Pasal 22 menyatakan bahwa setiap tenaga kesehatan dalam melaksanakan profesinya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi ditetapkan oleh Menteri.

Agus Mi’raj Ners, M.Kes, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Bhakti Kencana Bandung,  yang ditemui di sela-sela Uji Kompetensi (UKOM) Keperawatan menyampaikan “sebagai bagian dari standar profesi, kegiatan UKOM Keperawatan di sini sudah yang ke 6 (enam) kalinya. Alhamdulillah tingkat kelulusan mencapai 99% bahkan untuk bidan 100%. Agar para mahasiswa lulus, kita siapkan 5 (lima) semester untuk akademik dan 1 (satu) semester focus pada UKOM (pengayaan dan pemantapan). Yayasan totalitas membantu Stikes dalam rangka pengayaan dan pemantapan. UKOM ini menjadi titik output, tingkat kelulusan dapat dibuktikan dengan UKOM. Dengan UKOM, mereka lulus, bekerja mudah, karena setiap rumah sakit punya syarat harus lulus UKOM.”  Ungkapnya.

Retno Sumarni, Kepala Sub Direktorat Penjaminan Mutu ketika dimintai keterangan terkait UKOM Keperawatan menyampaikan bahwa Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu uji kompetensi nasional. Substansi ujian, yang meliputi soal, sumber daya dan sistem kelembagaan penyelenggara ujian akan ditingkatkan secara berkesinambungan agar tenaga kesehatan seperti perawat yang sangat dibutuhkan di dalam dan luar negeri dapat lebih mudah mendapat kesetaraan pengakuan di luar negeri. Untuk itu, diperlukan kerja sama dari berbagai elemen seperti organisasi profesi dan asosiasi perguruan tinggi untuk mempercepat peningkatan mutu uji kompetensi nasional. Masih menurut Retno bahwa tren jumlah peserta dari tahun ke tahun cenderung naik. Sementara, tingkat kelulusan uji kompetensi cenderung masih fluktuatif. Prosentase lulusan terendah untuk ketiga jenis program studi terjadi pada periode I tahun 2015 yaitu 29,49% untuk Diploma III Keperawatan, pada periode II tahun 2015 terjadi kenaikan prosentase kelulusan menjadi 64,38 %.

Bara Miradwiyana, SKp.,M.KM, sebagai Panitia Pusat menyampaikan bahwa koordinasi semakin lama semakin baik. “Dari masukan-masukan antar panitia di lokasi dengan panitia pusat makin kondusif, sehingga penyelenggaraannya semakain baik. Dengan hasil UKOM, menurutnya, mereka akan dapat Surat Tanda Registrasi (STR). Sertifikat pengakuan profesi ini yang menjadi jaminan mereka dapat bekerja, sebagai salah satu pra-syarat bekerja di rumah sakit,” ujar dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1 ini.

Undang–Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kesehatan; mendayagunakan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat; memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam menerima penyelenggaraan upaya kesehatan; mempertahankan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan upaya kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan; dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat dan tenaga kesehatan. Oleh karenanya, mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa pendidikan vokasi dan profesi harus mengikuti UKOM secara nasional sebagaimana disebutkan dalam Pasal 21, Ayat 2 dan 3.

Keberhasilan UKOM Keperawatan di berbagai tempat uji kompetensi di Indonesia, tentunya akan berdampak pada peningkatan mutu dan profesionalitas tenaga kesehatan, termasuk kehadiran Stikes Bhakti Kencana yang turut mewarnai dunia kerja bidang kesehatan. Semoga (AS/Editor/HKLI).