Home » Berita

Generasi Muda Harus Berwawasan Kebangsaan

26/08/2016

Jakarta – Belmawa. Menteri Pertahanan (Menhan) Indonesia, Ryamizard Ryacudu, membuka Rapat Koordinasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara dengan para Gubernur dan perwakilan Rektor seluruh Indonesia, di Gedung Kementerian Pertahanan Jl. Medan Merdeka Barat Jakarta pada Kamis lalu (25/8). 

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menhan Ryamizard menjelaskan ancaman-ancaman yang dihadapi oleh Indonesia, termasuk radikalisme kelompok-kelompok pelajar. Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Intan Ahmad, menegaskan perlunya penanaman kemampuan bela negara di kampus. Intan memaparkan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia perlu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan produktif untuk menghadapi tantangan globalisasi dan mewujudkan Indonesia yang lebih kompetitif.

“Esensi pendidikan di kampus adalah untuk menciptakan lulusan yang kompeten dalam bidang akademik, namun sangat perlu juga untuk menciptakan lulusan yang memiliki kemampuan bela negara, sebagai bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan nasional. Untuk itu diperlukan dosen dan tim pendidik yang juga berkompeten dalam hal tersebut,” ujar Intan.

Dalam paparannya, Intan Ahmad juga menjelaskan bahwa di era MEA Indonesia memerlukan lulusan yang tidak hanya pandai dalam bidang akademik saja, namun juga turut berperan dalam pembangunan. Misalnya melalui berbagai kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang tidak semata-mata hanya untuk memenuhi tugas perkuliahan saja, namun sebagai kesempatan untuk melihat realitas Indonesia dan berinteraksi dengan masyarakat. Dengan berbekal hal tersebut, lulusan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi di Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan global. Mahasiswa harus terlibat dalam berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesadaran bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kesiapan pemuda sebagai agen perubahan. 

“Karakter lulusan harus mampu berpikir kritis. Untuk itulah perlu digelorakan kesadaran untuk memajukan bangsa, termasuk pada para dosen, yaitu dengan memberikan materi embedded curriculum pada mahasiswa mengenai kompleksitas permasalahan di Indonesia. Tidak hanya melalui kegiatan akademik, namun juga melalui organisasi, ekstrakulikuler dan ko-kurikuler. Perguruan Tinggi di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang punya wawasan kebangsaan dan bela negara Pancasila,” himbau Intan di hadapan para rektor.

Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya pendampingan dosen di berbagai kegiatan dalam rangka menyamakan persepsi. Beberapa tahapan sudah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti dalam menciptakan kesadaran bela negara di Perguruan Tinggi sebagai bagian dari revolusi mental. Poin-poin penting yang ditekankan adalah bahwa setiap Perguruan Tinggi harus mampu mengembangkan kecerdasan (civic intelligence), tanggung jawab sosial (civic responsibility), serta partisipasi dan kontribusi sebagai warga negara.

“Diperlukan kerja sama yang baik di antara pengajar dan civitas akademika, untuk membentuk generasi yang lebih cinta pada tanah air, sehingga dapat menjadikan Indonesia lebih kuat secara ekonomi, lebih memahami demokrasi di negara kita, dan berkontribusi dalam menjadikan Indonesia sebagai negara madani,” lanjutnya. (DRT/Editor/HKLI)