Home » Berita

Workshop Membangun Budaya Mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia

18/08/2016

Surakarta – Belmawa. Masih terdapat disparitas yang cukup signifikan pada mutu pendidikan tinggi di Indonesia, yakni banyak program studi yang belum mencapai akreditasi unggul. Hal ini menjadikan perhatian kita bersama dan kita harus bekerja keras guna mewujudkan mutu pendidikan tinggi menjadi unggul. Kesenjangan mutu pendidikan ini kalau tidak diatasi akan menimbulkan dampak rendahnya kualitas lulusan, yang mengakibatkan tidak mampu bersaing di era global, tidak dapat mengisi lapangan kerja yang dibutuhkan untuk membangun negeri ini. Mutu pendidikan tinggi harus dapat menjamin untuk menghasilkan lulusan yang berdaya saing dan memenuhi kebutuhan lapangan kerja baik nasional maupun internasional.

Demikian sambutan Prof. Intan Ahmad, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) pada acara Workshop Membangun Budaya Mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia di Hotel Alana, Surakarta, Jawa Tengah (9-8-2016), yang sekaligus merupakan rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi (HAKTEKNAS) ke-21. Acara yang mengusung tema Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa ini diharapkan dapat mengurai permasalahan mutu pendidikan tinggi di Indonesia, memberikan gambaran perkembangan dan upaya sistematis untuk membangun budaya mutu pendidikan tinggi serta mencari langkah-langkah kongkrit dalam membangun budaya mutu pendidikan tinggi untuk mendukung daya saing bangsa.

Workshop yang terdiri dari 2 (dua) sesi ini, selain menampilkan Prof. Aris Junaedi, Direktur Penjaminan Mutu, Ditjen Belmawa, Kemenristekdikti sebagai pembicara, juga dari berbagai perguruan tinggi (PT) yang terakreditasi baik, yaitu Prof. Satrio Sumantri Brojonegoro, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Hanna H. Bachtiar Iskandar, Universitas Indonesia (UI), Prof. Bambang Setiaji, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Dr. Boto Simatupang, Universitas Bina Nusantara.

Dalam presentasinya para pembicara menjelaskan antara lain permasalahan masih rendahnya mutu pendidikan tinggi di Indonesia dan upaya pemecahannya, dan bagaimana perguruan tinggi (PT) menerapkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di institusi masing-masing,  pencapaian mutu PT berbasis pengetahuan dan terakreditasi internasional sampai pada penguatan mutu internal untuk menjamin penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi, dan  peran budaya mutu di PT.Budaya mutu2

Workshop dilaksanakan dalam 3 (tiga) komisi, dimana pada setiap komisi terdiri dari para dosen ahli di bidangnya yang sudah berpengalamanan dalam SPMI, Ketua Yayasan  PT, serta para Ketua Penjaminan Mutu di PT.

Acara yang berlangsung dalam 1 (satu) hari tersebut ditutup oleh Aris Junaedi, dengan menyampaikan hasil-hasil sebagai berikut:Yayasan telah menyadari bersama perlunya penjaminan mutu sebagai amanah undang-undang dan sekaligus memastikan pengelolaan Perguruan Tinggi yang berkualitas dan berdaya saing; Yayasan berkomitmen memastikan pelaksanaan SPMI melalui penyediaan anggaran, Sumber Daya Manusia (SDM), dan sarana dan prasarana; Keberhasilan pelaksanaan SPMI sangat dipengaruhi oleh kesepahaman tugas dan fungsi masing-masing, disertai dengan komunikasi yang efektif antara PT dan Yayasan; Yayasan mengharapkan pemerintah memfasilitasi pemberdayaan fungsi yayasan sebagai pengelola PT seperti workshop, bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti; dan perlunya peran serta fasilitator pusat atau wilayah dalam melakukan pendampingan penerapan SPMI (agar nama-nama fasilitator dapat dicantumkan di sistem Klinik SPMI secara online dan offline). (Susis/MGEditor/HKLI)