Home » Berita

Mengubah Mindset Pencari Kerja ke Mindset Wirausaha

18/08/2016

USA – Belmawa. Jumlah pencari kerja setiap tahun semakin bertambah. Tingkat pendidikan ternyata tidak memberikan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Kenyataan menunjukkan banyak pencari kerja yang bergelar sarjana. Di sisi lain, lapangan kerja yang tersedia sangat terbatas. Tingginya supply (pencari kerja) dan terbatasnya lapangan kerja (demand) yang tersedia mengakibatkan terjadinya pengangguran lulusan perguruan tinggi (PT). Kondisi ini diperkuat dengan mindset sebagian besar lulusan PT baik lulusan universitas maupun politeknik dan vokasional lainnya yang cenderung menjadi pencari kerja (job seeker) daripada menciptakan lapangan kerja. Untuk itu, perlu mengubah mindset mahasiswa kita dari memasrahkan dirinya hanya sekedar karyawan, atau berharap menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), menjadi mahasiswa yang mempunyai mindset wirausaha.

Mengubah mindset memang tidaklah mudah. Dibutuhkan proses nyata dalam diri individu untuk berani mencoba dan berani menghadapi kegagalan. Tuntutan yang tinggi terhadap lulusan politeknik dan lembaga vokasi lainnya yang mempunyai mindset wirausaha menyebabkan PT harus segera melakukan perubahan orientasi sistem pembelajarannya. Orientasi PT perlu diarahkan pada bagaimana menanamkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa sehingga mahasiswa tersebut mempunyai jiwa dan mental berwirausaha, menciptakan lapangan kerja buat dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Amerika Serikat adalah salah satu negara maju dimana kemajuan perekonomiannya ditopang oleh masyarakatnya yang mempunyai mental wirausaha. Data menunjukkan 1 dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam kegiatan wirausaha. PT di Amerika sangat berperan besar dalam menciptakan jiwa wirausaha kepada warga negaranya. Merujuk pada kesuksesan Amerika, hampir seluruh PT di Amerika Serikat menyisipkan materi wirausaha di hampir setiap mata kuliahnya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sayangnya di Indonesia dari lebih 4.043 PTS dan 370 PTN, hanya sebagian kecil saja PT yang peduli pada pentingnya kewirausahaan di kampus. Padahal untuk merubah mindset mahasiswa dibutuhkan usaha keras terutama dari PT sebagai insan intelektual.

Henri Togar Tambunan, staf Subdit Pendidikan Vokasi dan Profesi, Direktorat Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan mengikuti Course Entrepreneurship Curriculum Development di Muscatine Community College, Iowa, dan di Highline Community College, Seattle. Bersama 20 peserta lain, dari pimpinan dan dosen Politeknik Negeri, tenaga pendidik Akademi Komunitas memenuhi undangan “USAID Scholarship Prestasi Program” untuk mengikuti pelatihan dimaksud (25/7 – 5/8).

Selama 2 (dua) minggu pelatihan, peserta mendapatkan materi pelatihan tentang business plan dan bagaimana mengajarkannya kepada mahasiswa dalam business canvas, starting a new business, implementing as entrepreneurial mindset, introduction of Universal Design Learning (UDL) yaitu pembelajaran interaktif dan menarik, problem and solution identification. Kunjungan dilakukan ke wirausaha yang telah berhasil dalam menjalankan bisnisnya setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan di Muscatine Community College, Iowa, dan di Highline Community College, Seattle.

Berbekal pengalaman selama pelatihan, penulis berpendapat perlunya reorientasi PT, khususnya politeknik dan lembaga vokasi lainnya dengan memberi penekanan pada upaya menciptakan lulusan yang mampu berwirausaha. Oleh karena itu, yang pertama perlu dilakukan adalah mengupayakan agar mata kuliah wirausaha ada di setiap prodi Politeknik maupun Akademi Komunitas minimal satu semester. Politeknik dan Akademi Komunitas juga perlu menyisipkan materi wirausaha di sebagian besar mata kuliah. Kendala yang dihadapi adalah ketersediaan dosen yang siap sebagai agent merubah mindset. Minimal, seorang dosen Politeknik dan Akademi Komunitas perlu memiliki kemampuan dalam mengarahkan, memotivasi dan menginspirasi mahasiswa agar mau berubah dan memiliki mental dan jiwa wirausahawan. Untuk itu dosen juga harus merubah mindset dalam memberikan pembelajaran.

Sebagai wahana mahasiswa untuk memperoleh pengalaman sebelum terjun langsung memulai usaha sendiri, PT khususnya politeknik perlu membentuk unit usaha atau pusat wirausaha di kampus. Disana mahasiswa dibimbing tentang bagaimana menjalankan usaha, termasuk bagaimana berhubungan dengan Perbankan dan bagaimana melakukan kerjas ama dengan dunia usaha (incubator business). Dengan jiwa dan mental wirausaha yang dimiliki oleh mahasiswa diharapkan tingkat pengangguran lulusan PT dapat berkurang, dan bangsa akan maju berkat peran para wirausahawan muda yang meningkat. (HT/MGEditor/HKLI)