Home » Berita

Peluncuran Klinik SPMI, Menuju Pembangunan Budaya Mutu Pendidikan Tinggi

01/08/2016

Jakarta – Belmawa. Semakin banyak insan yang cerdas, bangsa tersebut akan semakin kuat. Pernyataan itu cocok dikaitkan dengan peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Semakin bermutu pendidikannya, pada saatnya akan semakin banyak insan yang cerdas. Salah satu cara dalam meningkatkan mutu  pendidikan di Indonesia adalah dengan menjadikan mutu itu sendiri sebagai budaya. Demikianlah kata pembukaan oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa), Intan Ahmad, pada acara Coffee Morning sekaligus acara press conference untuk soft-launching Klinik SPMI pada Jumat (29/7) di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti). “Dengan menekankan pentingnya mutu pendidikan tinggi, persaingan regional dan persaingan global di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini semakin ketat, untuk itu perlu peningkatan mutu program studi melalui berbagai kegiatan,” tegas Intan Ahmad.

Selanjutnya Guru Besar ITB tersebut menyampaikan bahwa saat ini terdapat 7.830 program studi berakreditasi C dari jumlah 23.000 program studi (Prodi) yang tersebar di perguruan tinggi (PT). Kemenristekdikti berusaha agar setiap Prodi semakin meningkat nilainya, dengan demikian lulusannya akan semakin baik, cepat mendapatkan pekerjaan, sehingga PT-nya pun naik rankingnya. Pada gilirannya, secara nasional pengangguranpun akan semakin berkurang.

Dalam acara tersebut, Aris Junaidi, Direktur Penjaminan Mutu, Ditjen. Belmawa menyampaikan kembali misi pemerintahan Jokowi – JK yaitu memujudkan bangsa yang berdaya saing yang diturunkan menjadi visi Kemenristekdikti yaitu “Terwujudnya pendidikan tinggi yang bermutu serta berkemampuan iptek dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa”. Untuk berdaya saing, sebuah bangsa haruslah bangsa yang berkualitas, dan satu-satunya cara untuk meningkatkan kulitas sebuah bangsa adalah dengan pendidikan yang berkualitas atau bermutu. Yang dihadapi Indonesia saat ini adalah disparitas kualitas pendidikan. Penyebab disparitas kualitas tersebut diantaranya adalah ketersediaan atau keterbatasan kapasitas dan daya tampungnya, keterjangkauan atau sebaran perguruan tinggi serta biaya kuliah dan akomodasi, serta kualitas sumber daya pendidikan.

“Potret apakah prodi itu sehat atau tidak, dapat dilihat dari akreditasi. Jika akreditasi C masih 50%, maka dampaknya adalah pengangguran akan meningkat. Indonesia tidak akan mampu memenuhi pasar kerja dalam pembangunan di era global yang sarat akan teknologi ini,” lanjut Aris. Ditegaskan, bahwa hal paling utama yang perlu dilakukan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah dengan membangun kesadaran, yaitu dengan membangun budaya mutu. Untuk itu, salah satu program peningkatan mutu yang perlu dilaksanakan melalui pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di pendidikan tinggi. Dalam SPMI, setiap perguruan tinggi secara mandiri/otonom dan terstandar melakukan upaya-upaya peningkatan mutu secara terus menerus dan berkelanjutan.

Untuk mengatasi kendala waktu, tenaga, dan kesempatan bertatap muka langsung dengan para fasilitator pusat dan wilayah dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi di lapangan dalam pelaksanaan SPMI di masing-masing perguruan tinggi, maka Direktorat Penjaminan mutu membuat ruang konsultasi maya antara para civitas akademika dan para penggiat SPMI dengan para fasilitator yang dinamai Klinik SPMI.

Peluncuran Klinik SPMI ini diharapkan akan membantu memberikan ruang konsultasi maya kepada para civitas akademika di PT agar Prodinya meningkat. Dengan dibantu oleh 14 fasilitator pusat dan ditambah kurang lebih 200 fasilitator wilayah, yang tersebar di PT di Indonesia. Hadirnya Klinik SPMI diharapkan dapat membantu mempercepat tumbuhnya budaya mutu di PT. Konsultasi dapat secara online (chatting) maupun offline, atau email. “Bentuk bimbingan teknis ini adalah klinik online, yang diharapkan dapat memberikan pemahaman secara komprehensif mengenai upaya membangun mutu dan menciptakan lulusan yang berkualitas. Di dalam situs spmi.ristekdikti.go.id. juga terdapat kumpulan pertanyaan dan jawaban yang selama ini sering ditanyakan peserta dalam berbagai pelatihan peningkatan mutu pendidikan tinggi yang diselenggarakan Direktorat Penjaminan Mutu (FAQ, Frequently Asked Questions). (DRT/Editor/HKLI)