Home » Berita

Menjajaki Kerja Sama RI-RRT Dalam Bidang Pendidikan Tinggi

31/07/2016

Beijing – Belmawa. Kerja sama Indonesia dan China semakin erat, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi akan semakin meningkat dengan akan ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia dengan Menteri Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok. Pada tanggal 1 Agustus 2016, akan ditandatangani dua MoU tentang mutual recognition dan full scholarship untuk 100 orang mahasiswa yang berminat menempuh studi S1, S2 dan atau S3 di negeri tirai bambu tersebut.

Dalam rangka hal tersebut, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan emahasiswaan, Sutrisna Wibawa, terbang ke Beijing  pada tanggal 26 – 28 Juli 2016. Turut serta dalam rombongan adalah Direktur Pembelajaran, Paristiyanti Nurwardani, Wakil Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) DR. Sukman Tulus dan Kasi Pendidikan Jarak Jauh, Uwes A. Chaeruman. Didampingi staf KBRI Beijing, tim bertemu dengan Direktur Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Tiongkok dan Presiden Beijing University of Medicine.

Hari pertama, 27 Juli 2016, rombongan diterima oleh Direktur Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikankunjungan ke beijing2 Tiongkok di Beijing. Ketua Delegasi, Sutrisna Wibawa, menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan seraya memperkenalkan anggota rombongan. Tiga hal yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah terkait dengan perlunya melakukan yaitu pertama, “mutual recognition” terhadap capaian pembelajaran pendidikan tinggi antara Indonesia dan Tiongkok; kedua, terkait dengan “mutual recognition”, secara khusus ditegaskan tentang pentingnya mutual recognition terhadap lulusan pendidikan tinggi dalam bidang Traditional Chinese Medicine (TCM); dan ketiga rencana beasiswa penuh dari Pemerintah Tiongkok terhadap 100 orang mahasiswa yang berminat menempuh pendidikan tinggi dalam berbagai bidang dan jenjang di Tiongkok.
Mr. Yong, Direktur Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Tiongkok, menyambut baik inisiatif tersebut. Bahkan, beliau menyarankan setelah penandatanganan MoU, segera melakukan komunikasi intensif dalam rangka menyusun rencana kerja (work-plan) untuk ketiga isu tersebut, khususnya untuk beasiswa. Terkait dengan TCM, Mr. Yong mempersilakan rombongan untuk mengenal lebih jauh dengan memfasilitasi akses terhadap rombongan untuk berkunjung ke Beijing University of Medicine dan beberapa rumah sakit atau klinik yang memberikan pelayanan TCM.

Pagi hari,  28 Agustus 2016, rombongan menuju Beijing University of Medicine (BUM). Diterima dengan sangat baik dan hangat oleh Wakil Presiden dan Direktur Pengawas Kedokteran BUM. Setelah sambutan penerimaan oleh Wakil Presiden BUM, Direktur Pembelajaran menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan. Paristiyanti Nurwardani menyampaikan hal yang sama, tapi lebih difokuskan pada isu “mutual recognition” secara khusus dalam hal Traditional Chinese Medicine.
Satu hal yang sangat mencengangkan tentang praktek TCM di Tiongkok. Kebijakan pemerintah terhadap praktek TCM sangat ketat, disamping harus lulus menempuh pendidikan TCM dan adaptasi 1 tahun sebelum mendapat ijin praktek, rata-rata harus menempuh antara 8 – 11 tahun pendidikan. Sangat berbeda dengan di Indonesia yang begitu mudahnya orang membuka praktek pengobatan tradisional.

Direktur Pengawasan Kedokteran BUM, Mrs. Li Ping menjelaskan bahwa pada dasarnya kurikulum pendidikan kedokteran BUM terdiri dari tiga elemen kunci, pertama, fundamental TCM; kedua, fundamental western medicine; dan terakhir modern health life science. Jadi, sudah mengkombinasikan antara metode pengobatan Tiongkok dan pengobatan barat. Bahkan, di setiap rumah sakit dengan metode pengobatan barat, ada satu departemen khusus TCM. Sebagai bahan kajian terkait mutual recognition dalam hal TCM, pihak BUM dengan senang hati berbagi kurikulum dan dokumen terkait. Bahkan, rombongan dipersilakan untuk meninjau beberapa klinik dan rumah sakit. Misi kunjungan kerja sama terpenuhi sudah (UAC/Editor/HKLI)