Home » Berita

Silaturahmi HBH 2016: Tingkatkan Kinerja Ditjen Belmawa

25/07/2016

Jakarta – Belmawa.  Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti menggelar Halal Bi Halal 2016 di Ruang Pertemuan Lantai 3 Gedung D Jalan Pintu 1 Senayan Jakarta, Sabtu (23/7/2016). Ajang silaturahmi keluarga besar Ditjen Belmawa ini tampak semarak. Acara yang bertemakan “Perkuat Silaturahmi dan Tingkatan Kinerja Ditjen Belmawa” ini berlangsung khidmat dengan tausiyah yang disampaikan oleh DR Muhammad Hidayat.

Hadir pada kesempatan tersebut Prof. Sutrisna dan jajaran sckretariat Ditjen, Direktur Pembelajaran beserta staf, Direktur Kemahasiswaan dan jajarannya serta Direktur Penjaminan Mutu dan para staf.   

Dalam acara tersebut, Sutrisna Wibawa, sekretaris Ditjen Belmawa memberi arahan bahwa kita ini merupakan 2 bagian keluarga besar yang sekarang menjadi satu keluarga.  Dua keluarga besar itu berasal dari jajaran Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud  dan keluarga Besar kemenristek. Oleh karenanya, kita harus bersinergi dalam meningkatkan kinerja Ditjen Belmawa pada khususnya dan Kemenristekdikti pada umumnya. “Melalui Silaturahmi ini diharapkan kita saling mendukung dalam pencapaian kinerja melalui kerja keras kita masing masing”. Ujar Sutrisna

Syahril Chaniago, Ketua Panitia, menyampaikan bahwa Kegiatan yang secara rutin digelar setiap tahun ini diharapkan dapat memperkuat silaturahmi di antara kita , saling mendukung dalam prestasi kerja. Syahril yang juga kepala bagian umum Setditjen Belmawa ini mengucapkan terima kasih kepada panitia dan para pegawai yang telah mensukseskan acara ini.HBH 2016

Dalam pesannya, Dr Mohammad Hidayat, menyampaikan kisah Maemun Bin Marham. Suatu ketika seorang budak perempuan milik Maimun bin Mahram, seorang alim dari golongan Tabi’in, membawa semangkuk kuah yang akan dijamukan kepada tamu-tamu sayyidnya, Maimun bin Mahran, namun tak disangka, si budak terpelesat, hingga mangkuk kuah tumpah semua mengenai baju Maimun. Hampir saja, sang Alim Maimun, memukulnya karena meluapkan amarahnya, tetapi si budak cerdik telah berkata lebih dulu, “Wahai sayyid, …dan orang-orang yang menahan amarahnya”. “aku sudah melakukannya”, timpal Maimun. Si budak berkata lagi: “..dan (orang yang) memaafkan kesalahan orang lain…”. Sang Alim maimun menjawab “kumaafkan kesalahanmu. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”, tambah si budak lagi meneruskan rentetan ayat 134 dari surat Ali Imran. “Kau ku bebaskan karena Allah”, sambut Maimun. Demikian tulis Al Qurthubi, dalam menafsirkan Ali Imran ayat 134, “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Mereka yang dapat memaafkan dan minta maaf, tentunya merekalah yang berjiwa besar. Tidak gampang melakukannya. Muhammad, Sang Nabi Al Aamin, dalam sejarah hidupnya sudah banyak memberi contoh dalam hal ini. Sifat memaafkan sudah terpatri dalam di sanubari.( AS/editor/febi)