Home » Berita

Menghadapi MEA, Pendidikan Tinggi Indonesia Harus Memiliki Daya Saing

25/07/2016

Pekanbaru – Belmawa. Pada acara temu ramah bersama civitas akademika Universitas Riau dan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, di Pekanbaru (23/7), Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir menjelaskan perlunya dilakukan reformasi pendidikan tinggi, yaitu untuk meningkatkan daya saing bangsa, dengan dua komponen utama yaitu di bidang akademik dan vokasi. “Dalam bidang akademik, harus dapat menghasilkan lulusan yang bergelar atau sarjana, sedangkan dari vokasi harus menghasilkan tenaga ahli terampil atau tenaga ahli madya. Ini yang menjadi PR kami, untuk mencetak lulusan-lulusan perguruan tinggi Indonesia yang memiliki daya saing,” demikian ujar M. Nasir.

Acara temu ramah tersebut dilakukan dalam rangka diskusi pengembangan sektor pendidikan bersama insan pengelola pendidikan di Pekanbaru, Riau.

Menristekdikti yang dalam kunjungannya didampingi oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) selanjutnya memaparkan, bahwa persaingan yang dihadapi oleh perguruan tinggi semakin berat, ditambah dengan tuntutan untuk lebih meningkatkan kualitas dalam menghadapi ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan tinggi di Indonesia adalah dengan pemberian beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, yaitu melalui bidikmisi, beasiswa program peningkatan prestasi akademik, beasiswa afirmasi, maupun beasiswa lainnya.

Dalam penjelasannya, Dirjen Belmawa, Intan Ahmad menyampaikan bahwa pemberian beasiswa tersebut merupakan bentuk perhatian negara terhadap warganya, terutama yang memiliki potensi tinggi namun kondisi ekonominya kurang memadai. Intan menegaskan bahwa pemerintah menyediakan program beasiswa bidikmisi, afirmasi, dan program lainnya, yang pada akhirnya akan dapat memutus rantai kemiskinan di Indonesia, terutama di daerah-daerah tertinggal.

Peningkatan kualitas juga harus dilakukan pada sumber daya pendidik, yaitu dosen-dosen perguruan tinggi sebaiknya minimal bergelar Doktor. Dalam mendukung hal tersebut, Nasir menegaskan bahwa pihaknya telah menyediakan 2.300 beasiswa bagi dosen. Angka tersebut cukup besar, ditambah dengan pihak Taiwan yang mengalokasikan 1.000 beasiswa bagi dosen. Nasir kembali menegaskan, bahwa para dosen, terutama yang sudah bergelar doktor, harus berkontribusi dalam meningkatkan perguruan tinggi, salah satunya adalah dengan mendorong publikasi riset di tingkat internasional. “Dengan peningkatan kualitas sumber daya pendidikan tinggi di Indonesia, baik mahasiswa atau lulusannya maupun pendidiknya, diharapkan daya saing pendidikan tinggi di Indonesia dapat semakin meningkat dan dipandang di skala internasional,” tutup Nasir. (DRT/Editor/HKLI)