Home » Berita

Pelaksanaan Ujian OSCE Sebagai Bagian UKMPPD

30/05/2016

Jakarta – Belmawa.  Direktorat Penjaminan Mutu Ditjen Belmawa Kemenristekdikti melakukan monitoring dan evaluasi Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD) tanggal 28-30 Mei 2016 untuk Objective Structured Clinical Examination (OSCE). UKMPPD periode Mei 2016 memiliki peserta terbesar sepanjang pelaksanaan UKMPPD, yaitu 5139 mahasiswa. OSCE diselenggarakan di 59 Fakultas Kedokteran. Salah satunya adalah Universitas Warmadewa Bali yang menyelenggarakan OSCE dengan 55 peserta, 3 diantaranya berasal dari Universitas Udayana Denpasar.

Menurut dr. Hilderbrand Hanoch Victor Watupongoh, Sp.PD selaku panitia pusat, “Ujian OSCE saat ini lancar, dari mulai briefing kemarin berjalan sesuai rencana sehingga pada pelaksanaannya tidak ada kendala. Seperti persiapan peralatan yang diperlukan, semuanya sudah disiapkan dengan baik. Peralatan representatif sesuai dengan standar, agar dipertahankan, karena baru 2 kali, semua sesuai SOP yang ditentukan pusat”. Sementara secara nasional, dokter spesialis Penyakit Dalam FK UKI ini memberi masukan agar review soal selalu diadakan sebelum dilakukan OSCE, agar sesuai dengan SKDI (Standar Kompetensi Dokter Indonesia) dan selalu update. OSCE adalah alat untuk menilai komponen kompetensi klinik seperti history taking, pemeriksaan fisik, procedural skill, keterampilan komunikasi, interpretasi hasil lab, manajemen dan lain-lain. Uji kompetensi ini menggunakan check-list yang telah disepakati dan mahasiswa mengikuti di beberapa station. OSCE pertama kali diperkenalkan oleh Harden dari Universitas Dundee (1975) yaitu berupa rangkaian 2–20 “station” yang masing-masing menggunakan waktu 5-15 menit.

Menurut Aris Junaidi, Direktur Penjaminan Mutu, Ditjen. Belmawa, pelaksanaan OSCE merupakan bagian dari UKMPPD yang terus mengalami perbaikan, termasuk kualitas penyelenggaraan ujian. Karena database kelulusan UKMPPD dibutuhkan oleh berbagai stakeholder seperti Kementerian Kesehatan dan LAM-PT Kes. Aris menambahkan “Registrasi dilaksanakan berbasis teknologi secara on-line dengan sistem yang terkoneksi dengan database nasional Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti).

Objective Structured Clinical Examination merupakan bagian dari sistem asessment. Tujuan OSCE yaitu menilai kompetensi dan keterampilan klinis mahasiswa secara objektif dan terstruktur. Tahun 2013, Ditjen Dikti telah melaksanakan OSCE Nasional serentak diberbagai universitas sebagai salah satu syarat menjadi dokter setelah dinyatakan lulus/kompeten dari ujian OSCE ini. Untuk lulus dari FK, mahasiswa harus mengikuti serangkaian tes. Meliputi Computer Based Test (CBT) dan OSCE itu sendiri. CBT merupakan suatu tes yang menguji pengetahuan mahasiwa dalam bidang kedokteran. Sedangkan OSCE adalah tes yang menguji keterampilan dan profesionalisme mahasiswa yang akan menjadi dokter. Dalam tes OSCE, semua kandidat mendapat soal yang sama sehingga tes ini objektif.

Adapun area kompetensi yang diujikan adalah anamnesis, pemeriksaan fisik, interpretasi data untuk menunjang diagnosis, tata laksana, komunikasi dan edukasi, serta prilaku profesional. Tes OSCE yang terdiri dari 12 station ini mempunyai beberapa macam variasi yaitu pasient based, clinical task, dan written task. Di setiap station test, para kandidat diberi waktu sekitar 15 menit dengan penanda bel dan di pertengahan station ada waktu istirahat. (AS/editor/HKLI)