Home » Berita

Menristekdikti : UNSIL Harus Hasilkan Lulusan Berkompetensi Tinggi Dalam Hadapi MEA

12/05/2016

Tasikmalaya – Belmawa.  Universitas Siiwangi Tasikmalaya  (UNSIL) menyelengarakan wisuda Diploma, Sarjana dan magister periode semester genap tahun akademik 2015/2016 di Gedung Manggala. Acara wisuda ini dihadiri sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan yang mewakili  Menristekdikti pada Rabu 11 Mei 2016. Ini merupakan tahun kedua Wisuda setelah UNSIL menjadi Universitas Negeri. Persisnya, pada 1 April 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu, menandatangi Perpres Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pendirian Universitas Siliwangi sebagai Perguruan Tinggi Negeri,  sebuah perguruan tinggi negeri di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.

Dalam sambutan Wisuda, Rektor UNSIL, Prof. Dr. Rudi Priyadi   menyampaikan pesan,” Peristiwa wisuda menjadi hari yang berkesan dan bersejarah bagi para Wisudawan/wisudawati semua, menandai selesainya pendidikan. Wisuda dimaknai sebagai upacara pengukuhan tanggung jawab akademis seperti   kompetensi keilmuan, keterampilan, maupun moralitas. Tantangan wisudawan adalah terserapnya  di dunia kerja yang semakin bertambah berat, karena harus bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara ASEAN”. Selain itu, adanya ketimpangan antara profil lulusan universitas dengan kualifikasi tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan.

2016-05-11 10.27.06revBerdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai. Padahal semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya. Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi. Susah terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia ini juga dikarenakan tidak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skill. Di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital, communication skills – keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat.

Prof Sutrisna Wibawa berkesempatan memberikan orasi Ilmiah yang mewakili menristekdikti.  “Mengawali orasi ilmiah ini, saya mengucapkan selamat kepada para wisudawan atas keberhasilan menyelesaikan program pendidikan di Universitas Siliwangi. Saya juga mengucapkan selamat berbahagia kepada para orang tua atas keberhasilan putra/putrinya dalam menyelesaikan studi. Saya mengucapkan selamat juga kepada Pimpinan Universitas Siliwangi beserta jajarannya, atas keberhasilannya dalam mendidik dan membimbing para mahasiswa hingga mereka berhasil menyelesaikan studinya di sini.” Selanjutnya Doktor lulusan UGM ini memberikan arahan kepada sivitas akademika UNSIL perihal membangun kompetensi sebagai upaya daya saing bangsa dalam era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan ekonomi kompetitif, memberikan peluang pasar, diikuti dengan arus bebas investasi, tenaga kerja terampil, dan modal. Daya saing bangsa dapat kita lihat dalam global competitiveness index tahun 2015, indeks daya saing global Indonesia turun ke peringkat 37, sebelumnya di peringkat ke-34 (tahun 2014). Masih di bawah Singapore peringkat ke-2, Malaysia ke-18, dan Thailand ke-32. Juga dalam konteks Indeks Pembangunan Manusia Indonesia/ Human Development Index (HDI) tahun 2015 pada tingkat global yang mengukur kesuksesan pembangunan dan kesejahteraan suatu negara, Indonesia berada di urutan ke 110 dari 188 negara. Bandingkan dengan Singapura yang berada diurutan ke-11, Malaysia di urutan ke-62, Thailand ke-93.

Lebih lanjut, Guru besar Universitas Negeri Yogyakarta ini mengutip data BPS bahwa angka populasi Indonesia tahun 2015 mencapai 255 juta, memiliki ‘Bonus Demografi’ dan akan terus berkembang menjadi 305,6 juta pada tahun 2035.  Akan lebih banyak penduduk usia produktif dibandingkan dengan usia non produktif mencapai tingkat lebih dari 60%.

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi  akan selalu berupaya melakukan peningkatan kualitas pendidikan tinggi, di antaranya melalui:

  1. diseminasi dan implementasi program penjaminan mutu bagi perguruan tinggi beserta prodinya;
  2. relevansi pendidikan tinggi (pengembangan kurikulum dan capaian pembelajaran) yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja;
  3. Peningkatan kualitas kegiatan kemahasiswaan untuk menghasikan karya kreatif dan inovatif.

Singkatnya, kini manusia di dalam masyarakat global dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi atau knowledge-based society.  (AS/Editor/HKLI)