Home » Berita

Ditjen Belmawa Kemenristekdikti Dorong Terwujudnya Penerapan Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) Berbasis SN DIKTI dan KKNI di Seluruh Perguruan Tinggi

11/04/2016

Jakarta – Belmawa. Sebagai upaya mendorong terwujudnya penerapan KPT di seluruh perguruan tinggi,  Direktorat Pembelajaran Ditjen Belmawa telah mengadakan Workshop Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi yang diikuti oleh 102 ( seratus dua ) perguruan tinggi. Masing-masing perguruan tinggi diwakili oleh 1 (satu) orang tim pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Acara tersebut diselengarakan di  Hotel Best Western Jakarta,  pada tanggal 8 sampai dengan 9 April 2016.

KPT merupakan  seperangkat rencana  dan  pengaturan  mengenai tujuan, isi,   dan bahan   ajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman   penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi. KPT  dikembangkan  oleh setiap  Perguruan Tinggi  dengan berorientasi pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi  (SN Dikti). Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) pada tahun 2016 ini telah merancang sejumlah progam terkait dengan pengembangan dan penerapan KPT di perguruan tinggi. Penerapan KPT tersebut diharapkan dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang bermutu dan relevan dengan  pembangunan nasional termasuk kebutuhan tenaga terdidik dan terampil di dunia industri.

Workshop ini dimaksudkan untuk peningkatan mutu pembelajaran pendidikan tinggi yang bermuara pada peningkatan mutu lulusan. dan terwujudnya forum komunikasi antar program studi dan saling berbagi pengalaman dibidang penyusunan kurikulum, serta sebagai upaya memotret permasalahan yang menghambat implementasi kurikulum KKNI dan  SN Dikti di perguruan tinggi. Workshop yang dipandu oleh Tim Pengembang Kurikulum Pendidikan Tinggi Ditjen Belmawa ini menjadi sangat penting untuk dilaksanakan karena output yang dihasilkan dari workshop ini selain akan menjadi rekomendasi kebijakan pimpinan, akan dipergunakan sebagai referensi dan bahan analisis dalam penyusunan kurikulum setiap program studi di perguruan tinggi masing.

pa edi mulyono2Sarasehan  ini dibuka oleh Kasubdit Pembelajaran Khusus Dr. Ridwan Roy Tutupoho   yang mewakili Direktur Pembelajaran Ditjen Belmawa.   Dalam sambutan dan arahannya, Ridwan antara lain menyampaikan ,”bahwa dalam menghadapi tantangan dan persaingan global, ratifikasi Indonesia di berbagai konvensi internasional serta menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)  penerapan kurikulum berorientasi SN Dikti dan KKNI harus segera dilaksanakan”.

Didalam workshop ini, selain disajikan materi sebagai pengayaan dari para tim pengembang kurikulum dengan topik Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi, Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester, dan Strategi Pembelajaran, serta Format  contoh Penyusunan Rencangan Pembelajaran Semester (RPS)  mengacu pada SN Dikti, juga  dilanjutkan dengan diskusi yang cukup interaktif. Setelah para peserta mendapatkan pengetahuan tentang sistematika penyusunan kurikulum pendidikan tinggi, maka dilanjutkan dengan sesi menyusun dan menyajikan kurikulum dari masing masing program studi (prodi) para peserta.

Berdasarkan pengamatan selama workshop ini dapat disimpulkan bahwa pemahaman peserta tentang penyusunan kurikulum pendidikan tinggi berorientasi KKNI masih belum merata, penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang mengacu SN Dikti masih bertaraf mencoba dan hanya sesuai format tetapi belum ada esensi pembelajarannya.

Tindak lanjut dari workshop ini diharapkan agar setiap peserta segera menerapkan kurikulum mengacu SN Dikti. Direktorat Jenderal Belmawa akan lebih intensif melakukan  sosialisasi dan diseminasi serta pelatihan secara  berkelanjutan, dan menyusun panduan ringkas tentang penyusunan KPT, CP serta Quality Assurance. Dari hasil penyusunan KPT dan RPS oleh peserta akan dilakukan review oleh TIM Pengembang Kurikulum untuk memilih beberapa rancangan terbaik untuk dijadikan contoh model. Selanjutnya untuk mendorong penerapan KPT  diharapkan workshop ini dapat dilakukan pada setiap wilayah kopertis di indonesia. (EM/editor/HKLI)