Home » Berita

Implementasi Capacity Building Menuju Peningkatkan Kinerja Organisasi Ditjen Belmawa Kemenristekdikti

24/03/2016

Bogor . Belmawa.  Awal tahun  2016 seluruh jajaran staf serta petinggi Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemenristekdikti selama dua hari melakukan apa yang namanya “membangun capacity building dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi” di Bumi Gumati Sentul Bogor. Catatan ringan ini hanya sekedar mengingatkan kita bahwa substansi yang kita peroleh /petik dari apa yang disampaikan oleh Sesditjen Belmawa Prof Dr.  Sutrisna Wibawa dalam arahanya, adalah hal yang sangat menarik bagi kita terkait dengan “inspiratif dan kompetitif”. 

Makna yang tersirat dalam “dua kata” tersebut adalah ketika dinamika kegiatan di Ditjen. Belmawa melaju dengan kecepatan yang kian rancak, maka elemen inovasi dan kreativitas boleh jadi merupakan sekeping keterampilan yang harus “dipeluk” dengan penuh kesungguhan.  Tanpa  kemahiran meracik inovasi, sebuah organisasi mungkin bisa tergeletak sia-sia. Inovasi dan daya kreativitas tentu saja tak hanya terbentang pada arena pengembangan produk – sebuah arena dimana inovasi telah menjadi jantung. Daya kreativitas juga mesti melenting dalam sejumlah arena lainnya, mulai dari arena proses penyelesaian pekerjaan, proses pelayanan pelanggan, hingga proses pengembangan SDM. Dengan kata lain, menciptakan pemikiran yang inovatif selayaknya diinjeksikan dalam segenap lini atau level dalam Ditjen. Belmawa. Sebab Ditjen. Belmawa adalah sebuah organisasi yang harus kreatif dalam segenap proses kegiatannya, niscaya memiliki sepercik asa untuk terus mengibarkan kejayaannya.

Kembali ke tema awal yakni, “membangun capacity building dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi”, kita bangun kinerja yang solid saat dimana kita berada dalam suatu lingkungan saat itu, begitu menggema membawa pengaruh yang positif ke dalam diri kita, dan kita semua lakukan dengan kesungguhan hati dan semangat. Inti dari membangun kinerja yang solid adalah bukan hanya sebatas retorika yang selalu kita dengungkan dengan semangat empat lima, namun itu adalah suatu proses menuju kesuksesan baik secara individu maupun secara institusi, sebagaimana putaran jarum jam terus berjalan, dan roda kehidupan terus berkelana.

Dengan tema “capacity building untuk membangun kinerja yang solid ada pesan yang sangat menarik untuk kita elaborasi terkait dengan “kinerja personal”, seluruh staf Ditjen. Belmawa yang secara operasional masih belum tersentuh yang barangkali akhirnya akan menuju ke arah sana dan tidak terasa, roda waktu terus bergerak selama 24 jam, tidak lebih tidak kurang. Bagi sebagian orang, waktu sepanjang itu acap dirasa tidak cukup.

Itulah kenapa kerapkali kita melihat Gedung D Kemenristekdikti dan gedung-gedung pencakar langit masih kelihatan lampu-lampu terang benderang  juga di sepanjang  protokol masih terus menyala meski jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Kita juga sering merasa betapa waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kita merayakan tahun baru, lho kok sekarang ternyata  sudah bulan Maret 2016. Sementara tugas di kantor masih saja terus menumpuk, terutama agenda kegiatan dan laporan kegiatan yang rasanya sebentar lagi harus dikumpulkan. Bahkan, kita saat ini harus mempersiapkan untuk menghadapi pelaksanaan  kegiatan kemahasiswaan seperti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM), Program Hibah Bina Desa (PHBD), Unit Kerja Mahasiswa (UKM) Sehat, PEKSIMINAS, PESPARAWI. Rasanya tak kunjung usai penugasan tersebut,  dengan ada  penugasan lain terkait dengan Narkotika dari Badan Nasional Narkotika (BNN), Radikalisme   dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang beberapa waktu lalu telah dilakukan Nota Kesepahaman antara Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan BNPT  di Universitas Diponegoro, Semarang. Tentu yang tak kalah penting adalah  isu-isu yang terkait dengan “revolusi mental” yang belakangan ini tengah hangat menjadi topik pembicaraan di beberapa media. Mendengar kata revolusi mental sebenarnya  bukanlah hal baru bagi bangsa Indonesia, karena sebelumnya Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno telah mencetuskan ini.

Dalam konteks itulah barangkali tepat jika kita mencoba berbincang tentang keterampilan manajemen waktu, kata bahasa kerennya adalah time management. Tak pelak kecakapan kita dalam mengolah waktu bisa sangat menentukan apakah kita akan menjadi seorang yang produktif  atau tidak. Sebab di zaman sekarang, waktu bukan lagi berarti uang (time is money, begitu dulu orang berucap). Sekarang, waktu adalah ibadah. Karena waktu tidak bisa kita mundurkan, kita perlu merenungkan tiap detik yang telah sudah lewati sebagai nilai tambah bagi kebaikan dan manfaatkan.  Kata Dr Iqbal, seorang penyair Pakistan,  berkata “ On this road halt is out place, static condition means death”. Di jalan ini, tiada tempat untuk berhenti, sikap lamban adalah mati. Betapa waktu begitu berharga untuk kita semua

 

Renungkan dan pikirkan tugas-tugas apa yang bersifat fundamental dan memberikan value paling banyak bagi kesuksesan kita. Berfokus-lah pada tugas-tugas yang merupakan key factors dalam menentukan pencapaian sasaran kinerja kita; dan kemudian pangkas tugas-tugas yang bersifat sekunder.  Pak Dirjen Belmawa bertutur “setiap individu mempunyai kapasitas sehingga mengorbankan output yang diembannya”.

Proses perjuangan yang berliku, proses yang memaksa kita untuk berjibaku, proses yang membikin kita jatuh dan terpelanting, lalu bangun, jatuh lagi, dan bangun kembali… begitu seterusnya – sama seperti kita lakukan dalam sebuah unit kerja “direktorat kemahasiswaan”  yang terdiri dari berbagai level eselon, semua itu acapkali merupakan momen-momen yang membikin kita ketagihan untuk menjalaninya (dibanding hasil kesuksesan itu sendiri…). Proses – betapapun melelahkan — selalu merupakan an amazing journey.

Dengan sebuah tema yang bertajuk the power of positive mindset sebagaimana yang disampaikan oleh narasumber kita tentang sikap mental positif untuk merajut sejarah kehidupan dalam ..”inspiratif dan kompetitif sebagaimana yang disampaikan oleh Sesditjen Sutrisna Wibawa kita yang selalu ceria. Itulah sebuah keyakinan tentang pentingnya membangun impian-impian dan imajinasi yang positif tentang masa depan organisasi BELMAWA (Pembelajaran dan Kemahasiswaan).

Kalau pikiran dan perasaan kita selalu dilimpahi dengan prasangka positif, dengan sudut pandang yang positif, dengan kosa kata yang positif (hebat, bisa, yakin, bahagia, menakjubkan, bersyukur, berterima kasih, dst…kalimat-kalimat bijak yang disampaikan narasumber kita  Prof Dr Jamaludin Anchok maka jalinan hidup kita cenderung akan bergerak ke arah tersebut. Sebaliknya, jika hidup kita acap diguyur dengan sikap mental negatif dan kosa kata yang negatif (mengeluh, kacau, stres, bete, gagal, marah, menyalahkan pihak lain, dst), maka rajutan nasib dan kehidupan kita bisa terus berada pada jalur tersebut. Karena itu, ketika kita dengungkan kata inspiratif dan kompetitif untuk meraih kesuksesan, maka bentangkan selalu tindakan yang positif dan penuh kemuliaan, tekuni setiap pekerjaan dengan niat ibadah, hadirkan amal kebaikan kepada sesama, dan tentu saja, selalu ikhlas berbagi dan bersedekah kepada yang membutuhkan, sedekah ilmu, sedekah tenaga, dan sedekah kekayaan.

Bila saja langgam kehidupan bisa terus berputar indah semacam itu, barangkali DITJEN. BELMAWA akan menjadi suatu institusi/organisasi  yang bisa memberikan kontribusi dalam menghasilkan atau menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang paripurna dan berdaya saing yang dapat dibanggakan (saya selalu ingat kalimat ini yang selalu disampaikan oleh Prof. Intan Ahmad selaku Dirjen. Belmawa dan Dr Didin Wahidin selaku Direktur Kemahasiswaan).  Selamat bekerja dan sukses selalu. Salam hangat selalu.  (Asfanda/ Kemahasiswaan/Editor/HKLI)