Home » Berita

General Education Salah Satu Model dalam Mencegah Radikalisme di Lingkungan Perguruan Tinggi

14/03/2016

Jakarta – Belmawa.   Perguruan Tinggi atau lingkungan kampus bagaikan kawah candradimuka bagi civitas akademika yang menghuninya. Sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan, kampus adalah lingkungan belajar yang sangat strategis bagi mereka terlebih bagi kelompok mahasiswa yang menggantungkan harapan, impian dan cita-cita serta masa depannya. Namun sayangnya, jalan tempuh menggapai cita-cita dalam mewujudkan obsesi mereka tidak semulus melewati lajur sebuah jalan tol.

Disamping peluang, ternyata banyak tantangan bahkan masalah yang dihadapi, dari situasi politik nasional, ekonomi, budaya, sosial, agama hingga problematik individu. Salah satu problem terkini yang menjadi ancaman serius kelompok mahasiswa adalah bahaya laten radikalisme atau terorisme. Dari masa ke masa di lingkungan kampus hampir selalu ada kelompok radikal baik ekstrem kanan maupun ektrem kiri. Radikalisme menyeruak ke permukaan menginfiltrasi kalangan mahasiswa di berbagai kampus.

Dari beberapa diskusi dalam pencegahan terorisme atau radikalisme, pengalaman penanggulangan radikalisme di tanah air memberikan suatu pelajaran berharga bahwa memerangi radikalisme atau terorisme bukan hanya persoalan melawan orang, kelompok dan jaringannya, akan tetapi yang lebih menyentuh persoalan adalah memerangi paham dan ajaran kebencian dan kekerasan. Betapapun besarnya upaya yang dilakukan tidak menyentuh akar persoalan tersebut, penanggulangan radikalisme atau terorisme hanya menghasilkan efek kejut sesaat.

Paham kebencian dan kekerasan tersebut adalah akar yang menciptakan gerakan, aktivitas dan aksi terorisme atau radikalisme di Indonesia. Seringkali paham tersebut dihembuskan atas nama agama, sehingga individu, kelompok, serta masyarakat yang rentan terhadap penyusupan paham negatif adalah mereka yang kemampuan pengetahuan keagamaannya sangat minim.

Penyusupan paham radikalisme juga sangat mudah dan rentan masuk di tengah-tengah kehidupan kampus, kerentanan tersebut tidak hanya dilihat dari sudut psiko-sosial semata, tetapi dalam aspek intrumen atau media penyebaran paham kebencian dan kekerasan telah didesain dengan pola dan gaya kehidupan kampus. Beberapa cara yang mereka lakukan seperti melalui buku, majalah, buletin dan yang paling masif dan efektif melalui jejaring internet maupun media sosial.

Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme. Yang tidak kurang kalah penting adalah revitalisasi organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus yang harus selalu mengacu pada statuta perguruan tinggi, karena organisasi kemahasiswaan di kampus memegang peranan penting untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme melalui pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang komprehensif dan kaya makna.

Karena itulah, konteks Nota Kesepahaman antara Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Kemenristekdikti yang dalam hal ini diwakilkan oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan menjadi sangat strategis dalam upaya membendung radikalisme di kalangan mahasiswa. Ada beberapa hal yang perlu dirumuskan secara sistematis dari kerjasama ini. Pertama, kita tidak perlu mendesain ulang kurikulum menyeluruh karena hal itu mengganggu stabilitas akademis-keilmuan. Yang mendesak dilakukan adalah revitalisasi mata kuliah yang bersifat ”ideologis” yakni berupa pembekalan terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan yakni Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara dan Ketetapan MPR, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Bentuk Negara, dan Bhinneka Tunggal Ika untuk  menutup potensi munculnya ajaran radikalisme. Kedua, penguatan peran dan tanggungjawab orang tua dalam menentukan keberhasilan pencegahan radikalisme. Orang tua berperan dalam menciptakan suasana harmonis dan komunikatif, menjauhi pola konsumtif dan memberikan keteladanan yang baik sesuai dengan norma agama dan sosial yang baik. Ketiga, penerapan kualifikasi dosen pengajar agama yang tidak berafiliasi dengan organisasi radikal dan tidak berideologi radikal. Hal ini menjadi sangat penting mengingat infiltrasi ajaran radikal tidak hanya muncul dari buku ajar tetapi dari pengajar yang memiliki perspektif radikal. Keempat, penataan ulang organisasi mahasiswa dan aktifitas keagamaan yang ekslusif di kampus dengan cara menyertakan dosen pendamping yang juga tidak berafiliasi. Kelima, dan sangat penting, penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan kampus sebagai bahan matrikulasi sebelum mahasiswa memasuki jenjang perkuliahan.

Dengan dasar pemikiran tersebut di atas, model general education merupakan alasan  rasionalitas yang berupaya untuk menjadikan sebagai kontribusi berupa gagasan dan pemikiran solusif untuk pencegahan paham radikalisme di lingkungan kampus, secara khusus dengan menggunakan perspektif “ideologi” sebagai pendekatan formalnya. General Education mempunyai makna bahwa mahasiswa diberi pemahaman yang bersifat “ideologi” yakni memberikan pemahaman wawasan kebangsaan seperti pemahaman terhadap Pancasila sebagai landasan ideologi bangsa, memahami akan kesatuan dan persatuan melalui NKRI, memahami akan keragaman suku yang beraneka melalui kebhinekaan tunggal ika.

General Education yang dilaksanakan oleh Ditjen. Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti melalui organisasi kemahasiswaan merupakan langkah strategis, inovatif, terpadu, sistematis, serius, dan komprehensif dalam menanggulangi radikalisme. General education dilaksanakan sebelum mahasiswa memasuki jenjang perkuliahan. Disamping itu, perlu adanya suatu tempat konsultasi bagi mahasiswa atau disebut juga complaint student center di setiap Perguruan Tinggi dimana baik dosen maupun dosen pembimbing keagamaan mempunyai kualifikasi. Masih tingginya tingkat intoleransi di kalangan mahasiswa akan menyimpan benih sekam radikalisme yang masih besar. Fenomena intoleransi akan berbanding lurus dengan tumbuhnya pandangan radikalisme. Jika hal itu terjadi tentu saja menjadi pukulan berat bagi perguruan tinggi khususnya dan dunia pendidikan secara umum yang gagal dalam menanamkan nilai-nilai kebhinnekaan dan ideologi Pancasila terhadap mahasiswa. (Aspanda/Editor/HKLI))