Home » Berita

Kemenristekdikti Galakkan Program Hibah Pusat Karir dan Hibah Tracer Study

08/03/2016

Jakarta/Bandung—Belmawa. Pentingnya data akurat tentang angkatan kerja secara nasional demi kebijakan yang tepat sasaran,  Perguruan tinggi (PT) negeri maupun swasta perlu mendata para lulusannya, baik yang langsung bekerja atau dalam masa tunggu. Selain itu, persebaran dan relevansi studi dengan pekerjaan yang sedang mereka jalani menjadi informasi yang penting di dunia pendidikan. 

Untuk memperoleh data tersebut, Direktorat Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan meningkatkan dana dan jumlah penerima hibah dalam program Hibah Pusat Karir (PK) dan Hibah Tracer Study (TS). Pada tahun 2016 ini, 100 hibah PK dan 100 hibah TS akan diluncurkan.

Sosialisasi program ini gencar dilakukan guna menjaring banyaknya proposal yang masuk. Road show sosialisasi kedua program ini diselenggarakan di seluruh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis). Di bulan Maret 2016, roadshow diadakan pada tanggal 3 Maret 2016 di Kopertis Wilayah III (DKI Jakarta) dan pada tanggal 4 Maret 2016 di Kopertis Wilayah IV yang meliputi (Jawa Barat dan Banten). Sosialisasi ini dihadiri 70 PTS di Jakarta dan 370 PTS di Provinsi Jawa Barat.

Dengan program ini, Perguruan tinggi didorong menggiring lulusan meniti sukses karir profesional setelah meninggalkan pendidikan tinggi. Pesan di balik hibah ini, tanggung jawab Perguruan tinggi tidak hanya beramal saat mahasiswa masih di bangku kuliah tapi juga berkontribusi dalam penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja. Pada akhirnya, para lulusan diharapkan dapat bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.

Para peserta di Jakarta dan Jawa Barat tampak antusias mengajukan proposal untuk dua program tersebut. “Walaupun begitu, perguruan tinggi yang sudah mempunyai PK boleh mengajukan proposal Hibah TS, sedangkan yang belum mempunyai PK tidak boleh mengajukan  TS namun boleh mengajukan Hibah PK,” terang Dr. Ied Sitepu dari Universitas Kristen Indonesia (UKI)

 “PK harus berada di bawah Perguruan Tinggi, bukan di tingkat prodi. Apabila Perguruan Tinggi sudah mempunyai PK di tingkat prodi, statusnya dinaikkan terlebih dahulu di bawah PT,” jelasnya lagi.

Di samping itu, Dr. Ruddy dari Universitas Gunadarma mengungkapkan bahwa nominal hibah ini bisa dibilang tidak terlalu besar. “Hibah dua program ini sebenarnya tidak besar jumlahnya karena sifatnya sebagai stimulan, hanya Rp 50.000.000. Jadi, perguruan tinggi perlu dana pendamping sebesar 25% dari jumlah hibah. Hal ini diperlukan agar terlihat kesungguhan perguruan tinggi untuk mendirikan PK di kampusnya,“ungkapnya.

“Seharusnya Perguruan Tinggi mampu memberikan dana dan perhatiannya pada PK di instansinya. Bukankah data itu diperlukan untuk menunjukkan kepada publik bahwa lulusannya berhasil di dunia kerja? Jadi program ini juga diperlukan untuk evaluasi pembelajaran dan akreditasi bagi institusinya sendiri”, terang Dr. Ied Sitepu yang juga Dekan Fakultas Sastra di UKI.

            Pada sesi tanya jawab, para peserta pun antusias berdisuksi. Dari beberapa pertanyaan yang menjadi masukan bagi Kemristekdikti adalah usul peserta bahwa hibah ini diberikan sebagai dana pembinaan Perguruan Tinggi bagi pembentukan PK. “Jadi tidak perlu dikompetisikan,” ungkap salah satu peserta.

DI samping road show, pembicara menyadari banyaknya pertanyaan yang muncul tentang program ini. Untuk itu, para pembicara membuka pintu untuk informasi lebih lanjut via email ke iedsitepu@yahoo.com dan ruddyjs@gmail.com, dan pktskemahasiswaan@ristekdikti.go.id. (MG/HKLI/editor: Febi).