Home » Berita

Indonesia Butuh Guru Daerah 3 T

19/02/2016

Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Intan Ahmad menaruh perhatian khusus pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Ia menghadiri yudisium/wisuda 298 lulusan PPG SM-3T dan PPGT Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (17/12/2016). Saat acara berlangsung Intan Ahmad didampingi Rektor UNM Arismunandar dan Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Didin Wahidin. Para wisudawan adalah lulusan program studi Pendidikan PGSD, Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Ekonomi, Jasmani dan Kesehatan Rekreasi, Sejarah, Geografi, Bahasa Indonesia, Bimbingan dan Konseling, dan Fisika.  Lulusan PPG berhak menyandang gelar “Gr”, gelar yang menandakan guru profesional. Hingga tahun 2016, tercatat total lulusan PPG di seluruh Indonesia dari 16 LPTK penyelenggara PPG SM3T dan PPGT sebanyak 2954 orang.

Di depan sivitas akademika UNY, Intan mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara luas dengan 17 ribu pulau lebih keragamannya. Penduduk Indonesia yang tersebar dalam ribuan pulau tersebut tentu membutuhkan layanan pemerintah secara baik seperti dalam bidang pendidikan. Untuk itu, Indonesia setiap tahun memerlukan ribuan guru yang profesional.

“Program PPG SM-3T, PPG Terpadu dan PPG Kolaborasi SMK menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi guru-guru profesional yang  siap terjun di berbagai daerah tersebut secara bertahap. Indonesia diperkirakan membutuhkan guru setiap tahunnya sebanyak 40 hingga 50 ribu guru,” terangnya.

Intan Ahmad juga mengemukakan bahwa pendidikan menjadi pilar utama untuk membangun masyarakat yang cerdas dan sejahtera. Dunia yang semakin kompetitif dan proyeksi bonus demografi Indonesia pada tahun 2030 dimana angkatan kerja/produktif lebih besar dari penduduk usia tua, Indonesia memerlukan pendidikan yang baik bagi warganya. Guru profesional menjadi garda terdepan untuk menyajikan pendidikan yang bermutu.

Di Finlandia, sambung Intan, mereka yang mengikuti pendidikan guru adalah mereka yang menempati ranking 10 besar ketika di sekolah lanjutan tingkat atas. Itu artinya merekalah yang bibit unggul yang terkualifikasi menjadi guru profesional. Belajar dari bangsa lain, LPTK memiliki tugas dan tantangan yang berat untuk menyiapkan pendidikan profesi guru dengan beragam latar belakang mahasiswanya.

PPG SM-3T ialah program Sarjana Mengajar (Sarjana Kependidikan) di daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil, dimana mereka setelah mengabdi selama 1 tahun di daerah ini, kemudian melanjutkan ke Program Profesi Guru selama 1 tahun. Mereka berasal dari berbagai daerah Indonesia, lalu mengajar di daerah-daerah yang menjadi program sasaran pemerintah di daerah 3T.

Di PPG Terpadu, para putra daerah lulusan SLTA mengikuti program pendidikan guru mulai program S-1 kependidikan dan langsung dilanjutkan ke Program Profesi Guru selama 1 tahun. Setelah lulus mereka kembali ke daerah masing-masing.

PPG Kolaborasi SMK adalah mereka lulusan S1/D4 dipersiapkan mengikuti program kependidikan Pendidikan Profesi Guru untuk menjadi guru SMK profesional yang berasal dari berbagai daerah.

Beberapa wisudawan mengungkapkan bahwa pengalaman mengikuti SM-3T merupakan pengalaman yang menyenangkan dan menantang. Lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan hidup asal peserta membutuhkan kemampuan adaptif yang baik. “Untuk hadir di daerah 3T,  bukan saja dibutuhkan kemampuan dalam bidang kependidikan, namun kemampuan sosialisasi dengan masyarakat setempat,” terang Direktur Kemahasiswaan Didin Wahidin.

Hasil kuisioner bagi perwakilan para wisudawan menunjukkan bahwa mereka merasa puas mengikuti PPG. Program, pembelajaran, dosen, mahasiswa, pengelola, fasilitas, dll merupakan hal yang menyenangkan dan sangat bermakna bagi mereka pada saat PPG. Hal yang sangat menarik bahwa UTN menjadi tantangan tersendiri karena cukup menguras pikiran dan energi dalam persiapan menghadapinya beberapa bulan sebelum UTN. Di antara sekian banyak kegiatan, mereka mengungkapkan bahwa UTN lah yang paling menantang dan membekas dalam ingatan mereka.

UNM Dukung Peningkatan Kualitas Dosen Kependidikan

Intan Ahmad juga membuka acara Pelatihan Dosen Kependidikan UNM yang diselenggarakan melalui kerjasama Kemenristekdikti dan US AID PRIORITAS. Kegiatan ini merupakan bagian dari program revitalisasi LPTK dan bagian integral dari PPG. Program bertujuan untuk mengembangkan kapasitas para dosen sehingga akan lebih mampu meningkatkan mutu pembelajaran bagi mahasiswa kependidikan.

Selanjutnya, Manajer US AID PRIORITAS Ajar Budi Kuncoro menitikberatkan pada cara menyajikan pembelajaran yang mendorong mahasiswa berperan aktif dalam belajar atau Student-Centered Learning (SCL), sehingga proses pembelajaran lebih bermakna bagi mereka. Melaui model pembelajaran seperti ini diharapkan para mahasiswa dapat meraih Capaian Pembelajaran secara optimal. Di samping itu, model ini dapat mereka terapkan ketika mereka terjun di dunia nyata dalam mendidik para siswanya. Mereka sudah terbiasa dengan penerapan SCL dalam kegiatan belajar mengajar.  (HS/Editor:Febi dan L4)