Home » Berita

Hikayat Pengabdian dan Pengalaman Pendidik SM3T

04/02/2016

Punya semangat mendidik dan berpetualang ke daerah baru? Ayoo gabung. Program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) adalah program pengiriman guru ke berbagai pelosok negeri. Program ini yang mendorong Musleh, seorang guru asal Labuhan Batu bersama puluhan ribu guru yang bertugas tidak hanya mengajar dan mendidik, tetapi juga mendorong kemajuan sekolah di tempat pengabdian mereka.
Tahun lalu, Musleh menjadi satu dari 3.140 guru yang terseleksi dari 18 ribu pelamar Program SM3T. Musleh bercerita, ada berbagai tahapan yang dijalaninya hingga berhasil lulus. Dia menuturkan pengalamannya sebagai guru di Pulau Siumeuleu Barat di Aceh. “Kehidupan sosial kita yang biasa di kota sangat berbeda. Seperti disiplin dalam belajar ternyata anak-anak di sana masuk sekolah tidak tepat waktu sehingga perlu diberi contoh pentingnya disiplin. Sebagai lulusan Fakultas Olah Raga Universitas Negeri Medan (UNIMED), dia mengajarkan sepak bola dan bola voli, dua jenis olah raga yang paling disukai anak-anak di daerah terpencil.
Hal yang sama dialami oleh Mazdalifah Saragih asal Serdang Bedagai. ”Banyak sukanya karena menemukan budaya baru, suasana baru dan orang-orang baru. Pengalaman yang tidak pernah terlupakan, mengajarkan anak-anak dengan karakter yang sangat berbeda menjadi tantangan tersendiri. Apa yang menjadi kebiasaan mereka dikaitkan dengan pembelajaran tidaklah sulit, mungkin pendekatannya yang penting. Simeulue yg membuat saya betah, alamnya belum tersentuh.”
Kiki Tien Manalu, alumnus Jurusan Bahasa Inggris UNIMED yang lain, yang mengabdi di Yahukimo Papua, menuturkan kita harus beradaptasi dengan bahasa mereka, dengan mindset mereka yang cenderung keras kepala. Bagi mereka, apa yang sudah mereka ketahui, sudah benar. Bagaimana saya mengubahnya sangat sulit, misalnya dalam tenses (grammatical structures). Hal lain, pandangan bagi mereka Papua adalah sebuah negara merdeka. Saya katakan, bahwa kita Satu Negara, Satu Bangsa Satu Bahasa, yaitu Indonesia. Pelan tapi pasti, akhirnya mereka memahaminya. Di SM3T ini memang kita diajarkan untuk dapat memanfaatkan sitauasi dan kondisi alam untuk bertahan hidup,” Kata Kiki mengakhiri wawancara.
Hidayat, Wakil Pengelola Program SM3T menuturkan, “Dalam proses pelaksanaannya, Program SM3T di Unimed mendapat perhatian lebih dari semua stakeholders (Dosen, Fakultas, Rektorat, Pemerintah Daerah dan juga Kemristekdikti). Artinya ini dikelola secara profesional. Doktor lulusan bidang Sosiologi Pedesaan IPB ini menambahkan,”Tahun pertama penyelenggaraan ada kendala bila dilihat dari output kelulusannya yang hanya sedikit, namun pada tahun kedua 100% lulus. Seperti apa yang dikatakan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI), program ini telah berhasil mengirimkan 7.962 guru ke seluruh pelosok Indonesia selama kurun waktu 5 (lima) tahun sejak SM3T diluncurkan tahun 2011”.
Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (monev) Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemristekdikti ini dilakukan untuk mengetahui kesiapan UNIMED dalam Pelaksanaan dan Evaluasi Ujian Tulis Nasional (UTN) Ulang ke-2 Pendidikan Profesi Guru (PPG) SM3T dan PPG Terintegrasi (PPGT) pada Sabtu, 30 Januari 2016. Hasil dalam monev ini antara lain perlunya perbaikan panduan teknis pelaksanaan UTN PPG SM3T dan PPGT khususnya dalam pembuatan soal dapat diserahkan kepada tim sehingga dapat mempermudah para peserta UTN PPG SM3T dan PPGT lintas jurusan dalam melaksanakannya, perlunya penambahan waktu bagi daerah tertentu yang mengalami pemadaman listrik pada saat ujian berlangsung. Terakhir, secara keseluruhan perlunya kebijakan khusus bagi pemerintah untuk dapat mengevaluasi pelaksanaan PPG SM3T dan PPGT melalui inventaris masalah yang terjadi di lapangan dan solusinya. (Abds, editor Mega)