Home » Berita

Membangun Tim Solid, Belmawa Adakan Outbound

26/01/2016

Di Bumi Gumati Bogor, seluruh pegawai di lingkungan Belmawa bersuka ria. Selama dua hari mereka menyatu melalui rangkaian kegiatan outbound. Kegembiraan, suka, tawa lepas, dan kekompakkan tampak di setiap staf. Tak ada jarak personal dan gender antar mereka. “Kami ingin membangun tim solid Belmawa,” kata Sutrisna Wibawa, Sekretaris Ditjen Belmawa, Jumat-Sabtu, (22-23/1/ 2016).

Tim solid dalam setiap organisasi, lanjut Sutrisna Wibawa akan mampu meningkatkan pelayanan ke masyarakat dan pendidikan tinggi. Terlebih saat ini, staf di Ditjen Belmawa merupakan gabungan staf Dikti Kemdikbud dan Menristek. Mereka perlu adaptasi dan membangun tim solid. “Outbound merupakan salah satu cara untuk membangun kekompokkan dan capacity building staf,” tambah Sutrisna, “Bayangkan jumlah pegawai bertambah dari 60 menjadi 160 orang. Tidak mudah membangun kekompokkan dengan latar budaya kerja yang berbeda. Tapi kami optimis, semoga outbound ini dapat mendekatkan perbedaan mereka.”

Untuk memahami pentingnya outbound, kegiatan ini juga menghadirkan motivator sekaligus pakar Psikologi Sosial Prof. Djamalludin Ancok. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya budaya melayani. “Melayani masyarakat itu melayani Tuhan,” ungkap Djamalludin penuh keyakinan, “itu sebabnya ketika kita mempermudah urusan orang lain maka Tuhan akan mempermudah urusan kita,” katanya.

Soal pelayanan ini, menurunya menjadi penting mengingat posisi Kemristekdikti sebagai pendukung inovasi ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. “Bangsa ini negara Elang yang diayamkan. Ada banyak anak-anak muda yang berinovasi dan memberikan kontribusi kepada masyarakat. Jika ada produk-produk inovasi yang kurang memenuhi syarat, mereka dibantu, bukan malah ditolak,” terang Djamaluddin bersemangat. Djamaluddin pun menekankan nilai-nilai yang perlu dibudayakan warga Kemristekdikti, “Lembaga ini harus think tank; harus terbuka dengan perubahan, banyak belajar dan banyak diskusi.”

Dalam ikhtiar mempermudah urusan orang lain, berbagai kiat pun perlu dilakukan. “hindari berburuk sangka dan arogansi sehingga kita tidak memilih menjadi seorang yang ketus dan menyakiti hati lawan bicara kita,” terang lulusan doktoral bidang Psikologi Sosial, Indiana University Amerika Serikat.

Di saat yang sama, Direktur Jenderal Belmawa Intan Ahmad pun menekankan pentingnya keterbukaan,” Silakan Bapak Ibu berpendapat dan mengungkapkan ide dalam menghadapi permasalahan yang ada sesuai prosedurnya” ajak Intan. Intan menyakini jalinan komunikasi yang baik dapat menjembatani segala permasalahan dengan solusinya.

Saat outbound, para pegawai dihadapkan berbagai tantangan yang menguji kekompakkan, ketelatenan dan intuisi. Bersama teman satu tim, masing-masing kelompok beradu strategi untuk lolos tantangan permainan blind volly, densus 99, permainan kata SEMAR, dan lainnya.

Afriyudianto, staf Belmawa memberikan kesan, “Tak kenal maka tak sayang. Saya merasakan adanya kebersamaan, terutama antara teman-teman dari Ristek (Kementerian Riset dan Teknologi), Ditjen. Pendidikan Tinggi (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), dan perguruan tinggi.” (Febi/Belmawa. Editor: L4)